Kemenperin Temukan Cara Ubah Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar

Berbagi berita ...

UNGARAN (Cakram.net) – Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBKK) yang berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah melakukan riset pengolahan sampah plastik jenis polietilena (kantong plastik) menjadi  senyawa lain yang lebih bermanfaat melalui proses pirolisis. Hasil penelitian dan pengembangan (litbang) tersebut diharapkan bisa membantu upaya pemerintah menanggulangi masalah sampah plastik.

“Pada proses pirolisis, limbah plastik akan diubah menjadi fasa cair dan fasa gas, serta residu berupa padatan. Gas yang tidak terkondensasi diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar,’’ kata Kepala BPPI Kemenperin, Ngakan Timur Antara di Jakarta, Kamis (26/9/2019), seperti dikutip dari laman kemenperin.go.id.

Menurut Ngakan, beberapa keuntungan metode pirolisis untuk pembakaran limbah plastik antara lain, beroperasi tanpa membutuhkan udara atau campuran hidrogen dan tidak memerlukan tekanan tinggi. Kemudian hidrokarbon yang terbentuk bisa menghasilkan sebuah produk yang dapat dimanfaatkan,  serta polutan-polutan dan pengotor menjadi terkonsentrasi sebagai residu padatan. “Pirolisis dilakukan pada sistem tertutup. Sehingga tidak ada polutan yang keluar,’’ jelasnya.

Kepala BBKK Wiwik Pudjiastuti menjelaskan, reaktor pirolisis untuk mengubah bahan baku limbah plastik menjadi crude oil. “Produk yang dihasilkan alat pirolisis hasil rekayasa BBKK memiliki karakteristik setara solar, dan setara pelarut yang merupakan hasil uji dari Lemigas,” ungkapnya.

Berdasarkan uji laboratorium didapatkan spesifikasi pelarut mendekati jenis pelarut produksi PT Pertamina, yakni Pertasol (10%), Minasol (10%), dan Low Aromatic White Spirites (30%) serta solar (40%) dengan cetane number lebih kurang 60 sesuai spesifikasi Euro4. Selain itu, hasil samping yang potensial bisa dimanfaatkan adalah gas yang jika diproses lebih lanjut dapat  dimanfaatkan sebagai bahan bakar gas. Gas yang dihasilkan melalui proses  pirolisis, yaitu gas hidrogen 9,1%, metana 4,7%, etana 4,6% dan propana 12,2% dengan nilai kalor 1209,25 BTU/ft3.

Jika dibandingkan nilai kalor gas alam yang sudah diolah (924 BTU/ft3 sampai 1027 BTU/ft3) dan nilai kalor gas pipa (950 BTU/ft3 sampai 1250 BTU/ft3) dengan pengotor H2S maksimum16 ppm, gas hasil proses pirolisis memiliki kandungan nilai kalor lebih tinggi. Sehingga mutunya lebih bagus sebagai bahan bakar, dan tidak mengandung zat yang bersifat korosif. “Gas yang sudah dipurifikasi bisa dimasukkan ke dalam tabung, sehingga memudahkan dalam penyimpanan dan aplikasi di lapangan. Gas hasil pirolisis juga telah terbukti dapat diaplikasikan pada kompor gas, burner proses pirolisis dan genset,’’ ujar Wiwik. dhi



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *