UNS Tambah Dua Guru Besar

SOLO (Cakram.net) – Guru Besar Universitas Sebelas Maret  (UNS) Surakarta bertambah jumlahnya menjadi 203 orang, menyusul dikukuhkannya Prof Dr dr Yulia Lanti Retno Dewi Msi sebagai guru besar bidang Ilmu  Gizi di Fakultas Kedokteran dan Prof Dr Hunik Sri Runing Sawitri SE Msi sebagai guru besar bidang Menejemen Sumberdaya Manusia pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Pengukuhan guru besar ke 203 dan 204 UNS ini berlangsung dalam sidang Senat Terbuka dipimpin Rektor Prof Dr Jamal Wiwoho SH MHum di Aditorium UNS, Selasa (15/10/2019).

Yulia Lanti Retno Dewi dalam pidato pengukuhannya menyatakan, kekurangan iodium merupakan masalah global. Gangguan akibat kekurangan iodium (Gaki) merupakan masalah gizi yang telah lama diketahui dan sudah dicoba mengatasinya. Di Indonesia, upaya penanggulangan GAKI masih menggunakan paradigma lama. Langkah demikian disertai asumsi kekuarangan iodium di suatu daerah adalah takdir dari sananya. Asumsi kekuarangan iodium merupakan ‘takdir’ di suatu wilayah yang dipakai dalam program penanggulangan GAKI  tampaknya perlu ditinjau lagi.

Dalam penelitiannya di Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar, digunakan perspektif ekologi untuk memahami  masalah kekurangan iodium. Dalam perspektif ekologi, kekurangan iodium merupakan akibat dari berbagai faktor yang ada dilingkungan setempat. “Untuk menanggulangi kekurangan iodium tidak cukup dengan memberikan suplemen sebagaimana paradigma yang dipakai sekarang ini,” ujar guru besar ke 42 di Fakultas Kedokteran UNS itu.

Sementara Hunik Sri Runing Sawitri dalam pidato pengukuhannya menegaskan, penelitian tentang komitmen telah banyak dilakukan. Hasil kajian menunjukkan, pengaruh  komitmen organisasional pada kinerja tugas tergantung kepada persepsi jarak kekuasaan. Komitmen pada supervisor bagi karyawan dengan jarak kekuasaan tertinggi lebih kuat berpengaruh positif kepada kinerja tugas, dibanding karyawan dengan jarak kekuasaan rendah.

“Kemudian komitmen pada supervisor bagi karyawan dengan jarak kekuasaan tertinggi lebih kuat berpengaruh positif pada kinerja tugas  dibandingkan komitmen pada organisasi. Temuan ini menjadi penting karena karyawan membedakan foci komitmen, yaitu supervisor dan organisasi dan perbedaan dalam sikap inimembuat perbedaan dalam perilaku,” kata guru besar ke 14 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS ini.

Rektor UNS Jamal Wiwoho dalam amanatnya menegaskan, garis kemiskinan makanan merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilokalori perkapita perhari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili 52 jenis komoditi. Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap garis kemiskinan pada Maret 2019 tercatat sebesar 73,6 persen. “Angka sumbangan garis kemiskinan makanan ini cukup besar di Jawa Tengah. Hal ini menjadi crucial point bagi kita untuk bisa memberi sumbangan yang nyata atas peran UNS, dan khususnya peran guru besar di bidang pengembangan SDM dan ilmu gizi sebagai akademisi yang tidak un-rooted professional,” tandasnya. baw/dhi

Bagikan:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *