Dana Desa Baru Terserap 60 Persen, Bupati Minta Kades Kreatif dan Inovatif

UNGARAN, Cakram.net – Para kepala desa (kades) di Kabupaten Semarang diminta lebih kreatif dan inovatif dalam mengoptimalkan potensi di desa masing-masing dengan memanfaatkan dana desa. Sehingga dana yang dikucurkan oleh pemerintah ke desa dapat terserap maksimal untuk pembangunan desa yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Permintaan itu disampaikan Bupati Semarang dr Mundjirin usai membuka Festival Dana Desa Kabupaten Semarang ke-3 tahun 2019 yang digelar di GOR Tennis Indoor komplek GOR Pandanaran Wujil Kabupaten Semarang, Rabu (18/12/2019).

“Sampai November 2019 dana desa baru terserap 60 persen. Saya minta kades lebih inovatif dan kreatif untuk menggali potensi yang ada di desa. Sehingga pemanfaatan dan pennyerapan dana desa bisa optimal,” katanya.

Rendahnya penyerapan dana desa, lanjut bupati, terjadi hampir di semua daerah di Jawa Tengah, bahkan ada yang baru terserap 40-50 persen. Penyerapan dana desa paling tinggi mencapai 87 persen, yakni di Kabupaten Kendal.

“Tapi kita mendorong agar para kades bisa inovatif dan kreatif sehingga dana desa tidak <I>idle<P> (diam). Kalau dana tersimpan di bank tidak ada gunanya. Yang rugi siapa? Ya masyarakat, karena dananya sudah ada tidak digunakan untuk membiayai pembangunan,” tandas orang nomor satu di Kabupaten Semarang itu.

Bupati menyebutkan, total dana desa yang diterima Kabupaten Semarang pada tahun 2019 sebesar Rp 181 miliar. Selain itu, ada alokasi dana desa dari Pemkab Semarang sebesar Rp 277 juta.

Bupati mengharapkan para kades bisa memanfaatkan sisa waktu di tahun 2019 untuk mengoptimalkan penyerapan dana desa melalui program inovatif dan produktif dalam mendorong kesejahteraan masyarakat.

“Kalau tidak bisa 100 persen tidak apa-apa, tapi jangan 60 persen, 80 persen lumayan lah. Mudah-mudahan akhir Desember penyerapannya bisa naik sampai 90 persen,” ujarnya.

Ditanya kendala dalam penyerapan dana desa, Bupati mengaku belum menerima laporan. Namun dia menduga adanya pilkades dan waktu yang tidak mencukupi menjadi kendala penyerapan dana desa.

“Selain pilkades, kendalanya mungkin waktu. Kalau SDM sekarang sudah bagus, sekretaris desa sudah ditatar dan dilatih,” jelasnya.

Pencairan dana desa yang tidak sekaligus semuanya, kata bupati, juga membuat penyerapan dana desa rendah. Sebab dana desa cairnya per termin, misalnya 40 persen, keluar lagi 40 persen.

“Kadang itu susahnya, kalau terminnya belum datang tidak boleh didahului dengan dana lain. Mudah-udahan nanti ada perbaikan dari kecamatan dan kabupaten,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Festival Dana Desa Kabupaten Semarang, Sugiharto mengatakan tujuan digelarnya kegiatan yang diikuti 208 desa itu, antara lain untuk transparansi dana desa dan ajang silaturahmi kades dan perangkat desa se-Kabupaten Semarang.

“Ada juga inovasi desa serta sharing gagasan dari kades maupun perangkat desa dalam penggunaan dana desa untuk kemajuan desa. Sekaligus untuk mengenalkan potensi dan produk unggulan desa,” ujarnya. (dhi)

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *