Pemkab Kudus Dorong Pengembangan Objek Wisata Baru

Berbagi berita ...

KUDUS, Cakram.net – Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, terus mendorong setiap desa untuk melakukan pengembangan objek wisata baru dengan memanfaatkan potensi daerah, terutama sumber daya alam  untuk mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar.

“Dengan tumbuhnya objek wisata baru di Kabupaten Kudus, tentunya roda perekonomian masyarakat sekitar juga akan meningkat dan kelak juga bisa menambah pendapatan asli daerah (PAD),” kata Pelaksana tugas Bupati Kudus Hartopo di sela-sela launching wisata agro kopi dan jembangan coffe and resto di Desa Wisata Japan, Kecamatan Dawe, Kudus, Sabtu (21/11/2020).

Hadirnya objek wisata baru di Desa Japan yang dikemas dengan bentuk resto, kata dia, sangat didukung karena nantinya bisa menghadirkan sektor-sektor usaha baru di sekitarnya.

Selain itu, lanjut dia, destinasi wisata baru ini bisa memberikan motivasi kepada desa wisata lainnya yang baru saja ditetapkan.

“Wisata agro kopi ini membuktikan bisa memajukan ekonomi kreatif. Memberdayakan remaja-remaja desa atau pokdarwis turut mengelola,” ujarnya.

Keberadaan generasi muda, kata dia, sangat potensial untuk dibekali kemampuan mengelola sektor-sektor usaha yang terkait dengan potensi daerah sehingga nantinya juga bisa untuk peningkatan pendapatan asli desa.

“Kenali potensi alam, misalkan bisa dimanfaatkan untuk destinasi wisata maka manfaatkan sebaik mungkin. Libatkan karang taruna dan bentuk tim kreator. Seperti yang ada di Desa Tanjung Rejo memiliki potensi alam dimanfaatkan sebagai destinasi wisata baru,” ujarnya.

Jika tidak memiliki punya potensi alam, seperti desa yang ada di wilayah perkotaan disarankan untuk membuat badan usaha seperti buat koperasi atau buka Pertashop sebagai agen resmi penyalur BBM pertamax.

Dengan adanya pemasukan untuk desa, masyarakatnya juga makmur.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Kudus Bergas Catursasi Penanggungan menjelaskan wisata agro yang baru diresmian menawarkan petik buah jeruk pamelo, alpukat, pisang byar, parijoto, ubi-ubian dan madu lebah.

Masing-masing daerah, kata dia, bisa mengemas usahanya sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Misal, wisata agro kopi dan jembangan coffe and resto di Desa Wisata Japan tersebut memang berada di lahan milik perorangan, namun pengelolaannya oleh kelompok sadar wisata sehingga bisa menjadi penggerak roda perekonomian masyarakat sekitar. (Ant/Cakram)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *