SOLO, Cakram.net – Fetoskopi Laser Ablasio perdana pada janin kembar twin-twin transfusion syndrome (TTTS) dengan usia kandungan 22 minggu, yang dilakukan Divisi Fetomaternal KSM Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Moewardi pada 28 September 2024 lalu, dinyatakan berhasil. Dengan begitu, RSUD Moewardi menjadi yang pertama di Jawa Tengah yang melakukan tindakan Fetoskopi Laser Ablasio.
Direktur RSUD Dr Moewardi, Dr Cahyono Hadi menjelaskan, TTTS terjadi ketika terdapat ketidakseimbangan aliran darah antara dua janin, yang dapat menyebabkan satu janin memperoleh darah dari yang lain, menimbulkan risiko kematian untuk keduanya, termasuk hemodilusi maupun dehidrasi dalam salah satu janin. Prosedur Fetoskopi Laser Ablasio bertujuan untuk memutus pembuluh darah yang menimbulkan permasalahan tersebut, sekaligus mengurangi dampak kerusakan organ pada janin.
Ia menambahkan, TTTS sebenarnya merupakan kejadian langka, yakni satu dari 5.000 kehamilan. Pihaknya menemukan kasus TTTS, dan kali pertama melakukan Fetoskopi Laser Ablasio pada TTTS dengan usia 22 minggu, dengan pengampuan Tim Kemenkes RI dari RSAB Harapan Kita Jakarta di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Dr Moewardi, pada akhir September lalu.
Fetoskopi Laser Ablasio, ujar Cahyono, dilakukan dengan memasukkan teropong fiber optik canggih ke dalam rahim, untuk mengidentifikasi pembuluh darah penghubung pada permukaan plasenta yang kemudian diputus dengan ablasi laser.
“Kami melakukan Fetoskopi Laser Ablasio mulai pukul 10.00 hingga 12.30 WIB. Sekitar 2,5 jam pascatindakan, perut ibu sudah tidak kencang-kencang, tidak terjadi rembes ketuban, dan gerak janin aktif. Kemudian dari hasil evaluasi hari ketiga pasca tindakan, ketimpangan arus darah pada kedua janin sudah membaik,” bebernya, dilansir dari jatengprov.go.id, Kamis 31 Oktober 2024.
