Capaian itu disusul dengan ekspor ke Jepang, dengan pangsa pasar 8,07 persen. Adapun tempat ketiga ada Tiongkok dengan pangsa pasar 4,53 persen, dengan komoditas ekspor berupa ikan, krustasea dan moluska, alas kaki serta kayu-barang dari kayu.
Sementara itu, BPS Jateng mencatat jumlah impor ke Jateng periode Januari-Oktober 2025 12.015,45 juta dolar AS, atau turun 4,86 persen, dibanding periode yang sama 2024.
Terkait neraca perdagangan kumulatif, kinerja perdagangan luar negeri masih mencatat defisit pada periode Januari-Oktober 2025. Namun demikian, Endang menyebut celahnya makin mengecil.
Tercatat neraca perdagangan total Jateng pada Januari-Oktober 2025 mencapai 1.702,53 juta dolar AS, atau lebih rendah dibanding periode yang sama 2024 yang mencapai 3.189,93 juta dolar AS.
“Sudah semakin tipis, Bapak-Ibu semua, neraca perdagangan defisit kita. Semoga bulan-bulan berikutnya kita mengalami surplus untuk neraca perdagangan secara total,” pungkasnya. (*)



