Lebih lanjut, Hasto menawarkan konsep One Village One Sister University. Ia berharap mahasiswa UAD dapat mengambil tanggung jawab pada segmen wilayah tertentu di sepanjang sungai.
“Mahasiswa bisa berkarya, mungkin membuat mural, taman, atau bahkan dermaga kecil untuk destinasi wisata. Harapan kami, Sungai Code bisa menjadi lokasi wisata arung jeram di sisi selatan Jembatan Tungkak,” tambahnya.
Konsep penataan sungai juga terus didorong melalui program Mundur, Munggah, Madhep Kali (Mundur, Naik, dan Menghadap Sungai). Dengan posisi rumah menghadap sungai, akses jalan inspeksi dapat terbuka untuk kendaraan darurat seperti pemadam kebakaran, sekaligus mencegah sungai dijadikan “tempat pembuangan belakang” rumah.
Ketua PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Aris Madani, menyatakan bahwa sinergi dengan Majelis Lingkungan Hidup ini merupakan bagian dari pendidikan karakter bagi mahasiswa dan santri. “Kami mengingatkan semua pihak bahwa sungai yang bersih sangat membantu ekosistem yang lebih baik. Ini bagian dari KKN Alternatif UAD untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Yogyakarta,” pungkas Aris.
Kondisi Sungai Code pasca-pembersihan diharapkan tetap terjaga agar rencana pengembangan akses infrastruktur dan pariwisata air dapat segera terealisasi. (*)
