Di sisi lain, antusiasme para petani dinilai sangat luar biasa. Namun, demi kelancaran arus lalu lintas di kawasan Bandungan, pihak panitia terpaksa membatasi jumlah peserta. “Sengaja kami batasi agar semua bisa berjalan lancar dan akses jalan tidak terganggu,” kata Suratno, salah satu petani bunga setempat.
DPRD Dorong Pemkab Ambil Alih Anggaran
Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bondan Marutohening, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi festival ini. Menurutnya, sebagai daerah penghasil bunga terbesar di Jawa Tengah, Bandungan sudah sepatutnya memiliki event ikonik yang didukung penuh oleh pemerintah.
“Event ini muncul dari bawah (akar rumput) sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen. Mestinya ini sudah masuk kalender event kabupaten dan didorong ke tingkat nasional. Kami berharap Pemkab memberikan dukungan penuh. Ke depan, penganggarannya bisa diambil alih oleh Pemkab, namun pelaksanaannya tetap ditangani secara mandiri oleh petani dan pedagang bunga,” tegas Bondan yang nadir dalam jumpa pers
Bondan meyakini intervensi dan sentuhan dari pemerintah akan membuat festival ini jauh lebih maksimal. Untuk menambah daya tarik, pihak legislatif juga berupaya menghadirkan Putri Pariwisata Indonesia serta memeriahkan acara dengan aksi paramotor.
Keberhasilan festival ini tidak lepas dari peran sektor swasta. General Manager (GM) Wahid Bandungan Hotel & Resot, Benny, menyatakan komitmennya untuk terus berkontribusi memajukan pariwisata Kabupaten Semarang, khususnya Bandungan.
