SEMARANG, Cakram.net — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan langkah antisipasi guna menyikapi penurunan harga garam rakyat di tingkat petambak saat musim panen raya. Selain menyalurkan berbagai bentuk bantuan, Pemprov Jateng mengimbau para petambak untuk menunda penjualan langsung (hold sale) serta memperkuat sinergi dengan koperasi.
Kepala Bidang Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Tengah, Lilik Harnadi, menyampaikan bahwa kondisi cuaca kemarau saat ini sangat mendukung peningkatan produksi di berbagai sentra garam Jawa Tengah.
Ia memaparkan, Jawa Tengah memiliki sembilan daerah penghasil garam yang menempatkannya sebagai produsen garam terbesar kedua di Indonesia. Pada 2025 lalu, total produksi garam rakyat Jateng mencatatkan angka 283.202,19 ton, dengan kontribusi terbesar berasal dari Kabupaten Pati (211.544,23 ton), Rembang (42.112,30 ton), Jepara (14.174,36 ton), dan Demak (13.868,66 ton).
“Tahun kemarin sempat turun karena kemarau basah. Pada 2024 produksi kita menyentuh 536.612,56 ton. Tahun ini diprediksi suhu meningkat sekitar 2 derajat Celsius, sehingga kondisi cuaca lebih kering. Sampai November mungkin masih bisa panen,” ujar Lilik, dilansir dari portal resmi Pemprov Jateng, Rabu (12/8/2026).
Namun, melonjaknya volume produksi memicu risiko penurunan harga di tingkat produsen akibat melimpahnya pasokan pasar. Di Kabupaten Demak misalnya, harga garam rakyat saat ini berada di kisaran Rp60.000 per kuintal atau setara Rp600 per kilogram.
