Yurnelis mengimbau para peserta dari 14 kemantren untuk memanfaatkan bahan-bahan daur ulang sebagai properti pertunjukan sesuai kreativitas dan tema yang diusung.
“Keistimewaan WJNC tahun ini adalah perhatian khusus pada konsep pengelolaan sampah. Kami sedang merancang tarian pembuka dan penutup yang mengedukasi serta mengajak masyarakat mengolah sampah dan menjaga kebersihan,” terang Yurnelis, Rabu (9/9/2026).
Untuk mencegah penumpukan sampah saat acara berlangsung, Pemkot Yogyakarta mengandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta dan UPT Pengelolaan Cagar Budaya. Petunjuk lokasi tempat sampah terpilah juga akan disediakan di sepanjang rute acara.
Edukasi lingkungan melalui karakter wayang juga disosialisasikan mendahului puncak acara lewat program Setu Sinau di Malioboro selama bulan Juli hingga September. Salah satu kegiatannya adalah pelatihan membuat topeng wayang gajah dari barang bekas seperti kalender dan kardus.
Mengenai alur pertunjukan, Yurnelis menjelaskan bahwa peserta akan mulai bergerak dari Gedung DPRD DIY menuju Titik Nol Kilometer, dengan titik penampilan (performance) di depan Kompleks Kepatihan dan atraksi utama di Titik Nol Kilometer.
