Awal Musim Hujan di Jateng Mundur Satu Bulan, BMKG Minta Petani Waspadai Hujan ‘Salah Mangsa’

Goeroeh mengingatkan masyarakat, khususnya sektor pertanian, untuk tidak terkecoh dengan hujan sporadis yang turun pada masa peralihan (pancaroba). Hujan sementara ini kerap memicu kekeliruan dalam menentukan masa tanam.

“Di masyarakat ada istilah hujan tipuan, atau dalam bahasa Jawa disebut hujan salah mangsa. Petani tadah hujan harus ekstra hati-hati dan tidak terburu-buru melakukan penanaman hanya karena hujan turun sekali dua kali,” tegasnya.

Bagi petani yang memiliki akses irigasi teknis, pengolahan lahan mungkin bisa disesuaikan. Namun, bagi pengguna lahan tadah hujan, kepastian pola curah hujan yang konsisten sangat krusial agar bibit tidak mati akibat kekeringan susulan.

BMKG juga menegaskan bahwa keterlambatan awal musim tidak menambah durasi musim hujan. Sifat musim hujan tahun ini diperkirakan tetap normal, dengan puncak musim hujan yang bervariasi antara Januari hingga Maret tergantung wilayah masing-masing.

Masyarakat dan instansi terkait diimbau terus memantau pembaruan informasi cuaca dari BMKG untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor saat puncak musim tiba. (*)

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *