UNGARAN, Cakram.net—Kompleks kios UMKM dan souvenir di dalam kawasan Daya tarik Wisata (DTW) Candi Gedongsongo tergenang air, saat terjadi hujan lebat, pada hari Minggu 21 April 2024 siang.
Akibatnya, aktivitas para pelaku UMKM, pedagang souvenir hingga para wisatawan yang berkunjung ke DTW ini cukup terganggu oleh genangan air yang ketinggiannya mencapai 15 hingga 20 centimeter tersebut.
Tak hanya itu, umumnya pelaku UMKM dan pedagang juga mengeluhkan terjadinya genangan air akibat limpasan dari saluran drainase sekitar kompleks kios UMKM serta souvenir di kompleks DTW Candi Gedongsongo ini.
Terlebih kawasan DTW Candi Gedongsongo –termasuk kompleks kios UMKM dan souvenir—belum lama diresmikan –tepatnya pada Kamis 7 Maret 2024– setelah dilakukan revitalisasi kawasan candi Gedongsongo oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Merespon keluhan tersebut, Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kabupaten Semarang, Wiwin Sulistyowati segera meninjau lokasi di kompleks DTW Candi Gedongsongo.
Wiwin bahkan minta pelaksana secepatnya turun tangan sekaligus menyikapi keluhan dari para Pelaku UMKM dan pedagang souvenir yang ada di salah satu DTW unggulan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang ini.
“Saya sudah meminta agar pelaksana secepatnya membereskan,” ungkapnya, saat ditemui di kompleks Candi Gedongsongo, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Senin 22 April 2024.
Wiwin juga menyampaikan, setelah mendapatkan laporan genangan di kawasan kios UMKM dan souvenir pada Minggu siang, ia segera melaporkan dan menyampaikan kondisi tersebut kepada Kementerian PUPR.
Bahkan sorenya segera dilakukan rapat secara daring bersama dengan perwakilan Kementerian PUPR maupun juga pelaksana proyek revitalisasi Candi Gedongsongo untuk menindaklanjuti laporan tersebut.
Dari hasil peninjaun di lokasi, tambahnya, genangan di kios- kios UMKM dan souvenir kompleks DTW Candi Gedongsongo dipicu oleh ‘penyempitan’ saluran yang ada di sekitar lokasi.
“Kalau kita lihat memang untuk tampungan dan pembuangan air sudah cukup besar, tapi untuk saluran penangkap air yang perlu dibenahi agar tidak ada luapan lagi. Karena saluran tangkapannya memang kecil,” jelasnya.
Wiwin menambahkan, selain faktor kurang besarnya saluran penangkap air, genangan terjadi karena sedimentasi di area tampungan.
Menurutnya ada lumpur dan daun- daun yang berada di tampungan, ini menyebabkan air tidak mengalir sempurna. Sehingga penyebab sedimentasi ini juga harus dibersihkan agar kejadian ini tidak terulang.
Hujan deras dalam waktu yang lama, masih menurut Wiwin– juga menjadi penyebab terjadinya genangan. Terlebih pohon- pohon yang baru ditanam saat revitalisasi kemarin belum sepenuhnya tumbuh optimal.
“Tetapi dengan perbaikan ini, kami sangat berharap bisa menjadi solusi agar tidak lagi ada genangan di area kios UMKM maupun kios souvenir di kompleks DTW Candi edongsongo ini,” tegasnya.
Sebelumnya, Pengurus Paguyuban Sumber Rejeki –yang menaungi para pedagang di kompleks DTW Candi Gedongsongo– Jumiyem mengungkapkan, selama 40 tahun berjualan di DTW Candi Gedongsongo, baru kali ini ada genangan air.
Walaupun tingginya di atas mata kaki orang dewasa, kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitasnya. Selain harus menyelamatkan dagangan, para pedagang juga harus membuang air ke arah saluran dan selanjutnya mengepel lantai yang kotor.
Seperti yang dilakukan para pedagang kemarin, Semua gotongroong membersihkan hingga tidak fokus berjualan. “Sebelumnya, walaupun hujan deras tidak ada masalah, ya baru kali ini kios- kios kami kebanjiran,” tegasnya.// (bow)
