UNGARAN, Cakram.net – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Semarang, Gunawan Wibisono mengatakan Pemkab Semarang sebenarnya sudah lama mengembangkan agrobisnis kopi terutama di Kecamatan Jambu dan Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang. Hasilnya sudah banyak kelompok tani yang tumbuh dan berkembang, bahkan Kopi Gunung Kelir di Kecamatan Jambu sudah mengarah ke agrowisata.
“Prinsipnya, Pemkab Semarang siap mendukung pengembangan agrobisnis kopi di Kabupaten Semarang. Nanti kita kaji kebutuhan kelompok tani itu apa, misalnya butuh alat roasting, untuk berapa kelompok dan kelompok mana yang akan menjadi pilot project pengembangan,” kata Soni, panggilan akrab Gunawan Wibisono, Senin (21/10/2019).
Selain alat roasting (untuk pemanggangan biji kopi mentah), kata Soni, pemkab bisa melakukan program pelatihan untuk petani atau kelompok tani kopi. Karena untuk mengoperasionalkan alat roasting saja perlu adanya pelatihan. “Yang penting harus disiapkan sumber daya manusianya, termasuk kekompakan kelompoknya. Jadi, kebersamaan, kekompokan, soliditas kelompok dan pengurusnya harus betul-betul disiapkan,” tandasnya.
Menurut Soni, banyak banyak masalah muncul setelah dapat bantuan alat akibat anggota kelompoknya tidak solid dan tidak guyub. Sehingga kerjasama yang baik dalam satu kelompok. “Kita punya konsep koperasi, tapi terkadang ketika sudah bareng-bareng dalam satu kelompok ada yang methal dewe-dewe (keluar dari kelompok). Pemkab tidak bisa bantu orang per orang, sehingga kerjasama dalam satu kelompok sangat penting, harapannya tetap bareng-bareng,” tegasnya.
Soni mengungkapkan, di beberapa desa saat ini mulai mengembangkan komoditas kopi yang sudah diolah hingga berupa bubuk kopi dalam kemasan dengan label desa masing-masing. “Mungkin sekarang kuantitas kecil, karena memang masih terbatas pada pemasaran. Kita siap memfasiltiasi pemasarannya, termasuk lewat pasar lelang,” janjinya.
Kata Soni, budaya minum kopi yang sekarang merebak dengan banyaknya kafe atau kedai kopi merupakan ceruk atau celah yang bisa diambil. Sehingga mereka mau menggunakan kopi lokal Kabupaten Semarang. “Cuma perlu pengolahan yang berkualitas, agar menjadi kopi yang enak, kopi yang unggul dan premium,” tukasnya.
Soni mengaku mendapat tawaran iklan jual beli secara online yang difasilitasi unit usaha tertentu saat menghadiri pameran di Jakarta. Konsep atau modelnya seperti lelang dengan transaksi online. “Kita sambut bagus di Jambu yang memanfaatkan pemasaran model onlie. Bupati Aceh Tengah akhirnya datang ke sana, karena melihat lewat dunia maya,” imbuhnya. (dhi)
