9 Rumah di Perumahan Ariabima Ungaran Timur Rusak Akibat Tanah Gerak

UNGARAN, Cakram.net – Sebanyak 9 rumah di Perumahan Ariabima, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, mengalami kerusakan akibat tanah gerak. Dua keluarga terpaksa harus mengungsi karena rumahnya rusak cukup parah dan berbahaya jika ditinggali.

Adapun sembilan rumah rusak meliputi tujuh rumah di blok D dan dua rumah di blok E. Kerusakan rumah antara lain tembok dan lantai retak, plafon ambrol, bahkan ada bangunan rumah yang miring.

Selain rumah rusak, akses jalan perumahan di blok D mengalami ambles sekitar satu meter. Sehingga jalan tersebut tidak bisa dilewati kendaraan bermotor. Warga menutup jalan yang ambles menggunakan terpal plastik.

“Kejadian tanah bergerak paling parah pada hari Minggu (8/3/2020) malam. Tiba-tiba rumah bergetar dan plafon ambrol, kemudian tembok retak dan bangunan rumah menjadi miring. Saya dan keluarga langsung keluar rumah, khawatir terjadi apa-apa,”  ungkap warga perumahan yang rumahnya rusak parah, Wahyudi, Senin (9/3/2020).

Wahyudi terpaksa harus mengungsi karena rumahnya berbahaya jika ditinggali. Dia dan keluarganya diizinkan pihak pengembang untuk menempati rumah di blok E yang kosong.

“Malam tadi saya berkemas-kemas untuk pindahan. Saya menempati satu rumah di blok E,” ujarnya.

Selain Wahyudi, keluarga Sandi terpaksa juga harus mengungsi. Sebab rumahnya yang terdampak tanah gerak tidak aman untuk ditempati.

“Pak Sandi dan keluarganya mengungsi ke Kota Semarang. Rumahnya bahaya jika ditempati,” kata Agung Wibowo, warga perumahan lainnya.

Menurut Agung, tanah gerak tidak hanya terjadi sekali. Dua tahun lalu di perumahannya pernah terjadi tanah gerak mengakibatkan rumah dan jalan rusak tetapi tidak separah Minggu (8/3/2020) malam.

“Total sembilan rumah rusak di blok D dan E. Tapi yang rusak parah dan nyaris ambruk ada tiga rumah, dua di antaranya rumah Pak Wahyudi dan Pak Sandi. Tadi malam mereka pindahan,”  ungkapnya.

Adanya pekerjaan perbaikan jembatan tol Penggaron di belakang perumahan dituding ikut memperparah terjadinya tanah gerak. Sebab jalan di belakang perumahan digunakan untuk askes kendaraan dan alat berat pekerjaan proyek tol.

“Kami sudah mengajukan keluhan  ke kelurahan dan pengembang perumahan. Tanah bergerak mungkin masih terus berlanjut, dan rumah yang sekarang miring bisa roboh,” ujar Agung.

Terpisah, Dirut PT TMJ, David Wijayatno menyatakan terjadinya tanah ambles di Perumahan Ariabima tidak ada kaitannya dengan pekerjaan perawatan jembatan tol Penggaron.

“Retakan tanah di perumahan itu murni akibat hujan terus menurus dan tanahnya tidak kuat menahan air yang meresap sehingga terjadi longsor di permukaan. Jadi, tidak ada kaitannya dengan pembangunan tol atau pekerjaan perawatan jembatan,” katanya di Kantor TMJ di Bawen.

David mengungkapkan, struktur tanah lokasi perumahan tergolong labil. Sehingga ada potensi longsor bila terjadi hujan terus menerus.

“Ini sudah kita deteksi lama, sejak pembangunan jembatan tol Penggaron. Jembatan tol dibangun tahun 2010 sementara perumahan baru dibangun 2016,” ungkapnya.

Pihaknya, lanjut Dawid, sudah pernah menyampaikan ke developer bahwa lokasi perumahan Ariabima tanahnya labil.

“Sekali lagi saya katakan, retakan tanah di perumahan tidak ada kaitannya dengan pekerjaan perawatan jembatan. Sebab retakan terjadi di atas sementara posisi jembatan di bawah,” tandasnya. (dhi)

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *