Hasil Monitoring Komisi D, Mayoritas Orangtua Siswa Ingin Anaknya Ikut KBM Tatap Muka di Sekolah

Berbagi berita ...

UNGARAN, Cakram.net – Mayoritas orangtua siswa menginginkan anaknya mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah secara tatap muka. Hal itu diketahui Komisi D DPRD Kabupaten Semarang saat melakukan monitoring persiapan tahun ajaran baru menghadapi new normal di sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Semarang.

“Saat kita melakukan kegiatan monitoring persiapan KBM menghadapi new normal ke 30 SMP di Kabupaten Semarang, 80 persen orangtua mengizinkan anaknya ikut KBM tatap muka. Alasannya anak-anak merasa jenuh di rumah,” ungkap Sekretaris Komisi D DPRD Kabupaten Semarang, Joko Sriyono, Selasa (7/7/2020).

Menurut Joko, para orangtua sudah diberitahu mengenai konsekuensinya bila menginginkan anaknya mengikuti KBM secara tatap muka di sekolah. Selain mengantar-jemput anaknya, orangtua harus membuat surat pernyataan kesediaan anaknya mengikuti KBM tatap muka di sekolah.

“Orangtua harus membuat surat pernyataan. Jangan sampai anak-anak naik angkutan umum,” tandasnya.

Joko menjelaskan, beberapa tahapan sebelum sekolah dinilai layak melakukan KBM tatap muka antara lain melengkapi sarana protokol kesehatan seperti tempat cuci tangan, alat pengukur suhu badan, dan usaha kesehatan sekolah (UKS) yang terintegrasi dengan puskesmas terdekat.

“KBM secara tatap muka tidak dilakukan secara penuh melainkan dibagi per kelas, misalnya kelas 7 dua hari, kelas 8 dua hari, kelas 9 dua hari. Kami minta KBM tatap muka hanya 4 jam tanpa istirahat, per kelas maksimal 16-18 siswa,” katanya.

Menurut Joko, hanya sekolah di dua kecamatan yang memungkinkan melakukan KBM secara tatap muka, yakni di Bancak dan Pabelan. Sebab kecamatan lainnya berstatus zona merah COVID-19.

“Di kelurahan dan kecamatan yang zona merah tidak kita rekomendasikan menerapkan KBM secara tatap muka,” ujarnya.

Saat melakukan monitoring, lanjut Joko, Komisi D berkoordinasi dengan Dinkes Kabupaten Semarang untuk mengecek kesiapan alat kesehatan yang ada di sekolah. Pihaknya akan mengevaluasi setelah pelaksanaan KBM secara tatap muka di SMP.

“Untuk KBM secara tatap muka di SD belum kita rekomendasikan, diperkirakan Desember baru bisa dilakukan. Nanti TK menyusul,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Disdikbudpora Kabupaten Semarang, Sukaton Purtomo Priyatmo menyampaikan secara umum SMP sudah menyiapkan KBM menghadapi new normal, salah satunya terkait kesiapan sarana protokol kesehatan. Namun belum semua SMP di Kabupaten Semarang bisa melakukan KBM secara tatap muka mulai 13 Juli 2020.

“Yang mengizinkan sekolah layak melakukan KBM tatap muka adalah Pemkab Semarang melalui Disdikbudpora. KBM secara tatap muka hanya bisa dilaksanakan di daerah zona putih atau hijau,” kata Katon, panggilan akrab Sukaton Purtomo Priyatmo.

Menurut Katon, orangtua siswa akan diminta membuat surat pernyataan kesanggupan anaknya mengikuti KBM tatap muka tanpa ada paksaan.

“Kalau memang orangtua tidak mau ya kita tidak bisa memaksa,” ujarnya.

Katon menambahkan, setelah KBM tatap muka dilaksanakan akan ada evaluasi mingguan. KBM tatap muka harus mematuhi protokol kesehatan.

“Kalau sampai ada klaster baru di sekolah maka KBM tatap muka di sekolah langsung kita hentikan,” pungkasnya. (dhi/Cakram)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *