BPBD Sleman Minta Kelompok Relawan di Pengungsian Merapi Melapor

Berbagi berita ...

SLEMAN, Cakram.net – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta meminta agar kelompok relawan yang turut terjun membantu penanganan pengungsi erupsi Gunung Merapi untuk melapor sebelum melaksanakan kegiatannya.

“Kami minta jika ada kelompok atau kawan relawan yang akan turun membantu untuk melapor ke BPBD Sleman terlebih dulu,” kata Kepala Bidang Kedarutan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman Makwan di Sleman, Sabtu (14/11/2020).

Menurut dia, tujuan dari pelaporan tersebut selain untuk pendataan juga gunak mengetahui spesifikasi kemampuan yang dimiliki masing-masing relawan dan kelompol relawan.

“Kami harus tahu itu spesifikasi kemampuan dari relawan, apakah dalam hal evakuasi, dapur umum, penyelamatan atau lainnya. Jadi nanti akan mudah dalam koordinasi,” katanya.

Ia mengatakan, saat ini memang belum banyak kelompok relawan yang terjun membantu penanganan tanggap darurat bencana erupsi Gunung Merapi di wilayah Sleman.

“Saat ini kelompok relawan yang sudah melaporkan turut turun membantu yakni dari Dompet Dhuafa dan Aksi Cepat Tanggap (ACT), selain itu juga dari Tagana Sleman, PMI Sleman dan relawan Sleman,” katanya.

Makwan mengatakan, pihaknya juga berharap kelompok relawan yang turun membantu dan membuat posko relawan untuk melapor ke BPBD Kabupaten Sleman.

“Ya itu namanya ‘kulonuwun’ (permisi) dengan yang memiliki wilayah,” katanya.

Panewu Cangkringan Suparmono mengatakan Saat ini lebih dari 200 orang warga Dusun Kalitengah Lor, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman harus mengungsi di barak pengungsian Glagaharjo karena wilayah mereka masuk dalam zona rawan bencana erupsi Gunung Merapi karena hanya berjarak kurang dari 5 kilometer dari puncak.

Para pengungsi ini merupakan warga kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, balita, ibu hamil maupun penyandang difabel.

“Selain itu ada juga pengungsi dewasa, mereka ini ikut mengungsi karena menemani kakek/neneknya, anaknya dan juga karena ada yang khawatir karena masih trauma dengan peristiwa erupsi Merapi 2010,” katanya. (Ant/Cakram)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *