UNGARAN, Cakram.net – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana memenuhi permintaan petani untuk menurunkan elevasi Danau Rawapening di Kabupaten Semarang agar bisa bercocok tanam dengan membuka pintu air Tuntang. Pintu air Tuntang hampir tiga tahun ini tidak pernah dibuka untuk kepentingan revitalisasi danau seluas lebih dari 2.000 hektare tersebut.
Pembukaan pintu air Tuntang dihadiri Kepala BBWS Pemali-Juana, Muhammad Adek Rizaldi, Bupati Semarang Ngesti Nugraha dan jajaran Forkopimda Kabupaten Semarang. Hadir pula perwakilan Forum Petani Rawapening Bersatu (FPRB) yang selama ini terdampak luapan air Rawapening hingga tidak bisa bercocok tanam.
Ketua (FPRB), Suwestiyono mengungkapkan, selama 3 tahun terakhir petani di sekitar Rawapening tidak bisa bercocok tanam di lahan pertaniannya sendiri. Sebab sudah tiga tahun ini pintu air Tuntang tidak pernah dibuka untuk kepentingan revitalisasi, sehingga air Rawapening meluap menggenangi lahan pertanian warga.
“Total ada 2.000-an petani yang tersebar di 14 desa dan empat kecamatan terkena dampak dan harus kehilangan mata pencaharian karena tidak dapat bercocok tanam. Baik petani pemilik lahan, petani penggarap lahan Pemprov maupun penggarap tanah bengkok desa,” ungkapnya di Kampoeng Rawa, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Selasa 10 Mei 2022.
Menurutnya, petani sudah lama meminta agar elevasi Rawapening diturunkan. Tujuannya agar petani dapat bercocok tanam lagi pada Juni hingga September 2022 mendatang.
