Karena terjadinya Covid-19 berdampak pada krisis pembelajaran, termasuk krisis karakter. Untuk itu, selama pandemi covid, pemerintah memberikan kelonggaran kurikulum yang disederhanakan, yakni kompensi dasar yang esensial dan potensial. Dalam perjalanannya, ternyata kurikulum yang disederhanakan itu, mampu mengangkat krisis belajar siswa dan krisis karakter selama pandemic Covid.
Kemudiaan terlahirlah Permendikbudikti Nomor 56 Tahun 2022, isinya dalam tatanan teknis, diamana sekolah bisa memilih opsi, ada kurikulum mandiri belajar, kurikulum mandiri berubah dan kurikulum mandiri berbagi.
“Ini tidak menjadi pilihan yang salah dan benar, tetapi menjadi pilihan yang disesuaikan dengan kesiapan sdm dan sarana prasarana yang ada dan stekholder terkait,” tambahnya.
Lebih lanjut Azis menjelaskan, kerikulum merdeka ini untuk meningkatkan proses belajar mengajar, akibat krisis pandemic covid 19. Juga mengembalikan nilai karakter yang kemarin sempat berhenti dari dampak covid, sehingga ada tawaran penguatan profil belajar dengaan materi Pancasila.
Sedaangkan disisi lain, para guru juga diberi keluasaan memilih perangkat ajar dan metodologi dan materi lainnya, agar guru lebih flekesibel memilih materi pelajaran yang lebih esensial. bisa membantu pembelajaran bagi siswa dididik.
