Sementara itu, Ketua I Pengelola Pelestari Peninggalan Kiai Ageng Gribig (P3KAG), Eko Susanto, mengatakan apem yang disebarkan pada perayaan tradisi Yaqowiyyu berasal dari sedekah warga Jatinom dan luar Jatinom. Bahkan sedekah datang dari warga yang tinggal di luar Pulau Jawa hingga luar negeri, seperti dari Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Qatar.
“Setiap ada warga yang datang menyerahkan sedekah apem, selalu ditanya atas nama siapa dan dari mana asalnya, kemudian didoakan. Ternyata yang datang bukan hanya dari sekitar Jatinom tapi sampai luar negeri juga. Mungkin ada saudara di sini yang membuatkan atau yang bersangkutan menyempatkan pulang,” jelas Eko.
Tradisi Yaqowiyyu telah berlangsung sejak abad ke-16 diprakarsai oleh ulama besar Kiai Ageng Gribig yang menyebarkan agama islam di wilayah Jatinom. Tradisi Yaqowiyyu ini juga sering disebut Saparan karena dilaksanakan setiap bulan safar. Kiai Ageng Gribig disebut juga merupakan keturunan Raja Bhrawijaya V dari Kerajaan Majapahit. (Cakram)
