“Ada cerita dari program Destara di Sragen, yang bersinergi dengan Baznas, Dinkop UKM dan Dinas Perlindungan Perempan dan Anak. Di Desa Ketro, ketika kami melakukan pelatihan pengolahan ikan menjadi abon, saat ramadan bisa terjual dan omzetnya mencapai Rp15 juta per minggu,” ujarnya.
Lebih lanjut, pada program tahun depan BKOW akan lebih serius untuk mendampingi perempuan korban KDRT. Tahap pertama yang akan dilakukan adalah pelatihan paralegal.
“kita akan dampingi korban kekerasan rumah tangga. Nanti ada pelatihan paralegal terlebih dahulu kemudian juga ada kepanjangan tangan di GOW yang tersebar di 35 kabupaten/kota,” sebut Nawal.
Ketua Dewan Pembina BKOW Jateng Siti Atikoh mengapresiasi kinerja badan tersebut. Menurutnya, selama ini BKOW memiliki andl besar dalam penanggulangan kemiskinan melalui berbagai pendampingan, pelatihan dan pemasaran juga perbaikan RTLH.
“BKOW terdiri atas 40 organisasi perempuan, kalau bisa digerakkan semua untuk penanggulangan kemiskinan terkait kelompok rentan, perempuan di daerah pinggiran, penanggulangan stunting hingga pendewasaan usia pernikahan yang kini minimal 19 tahun,” pungkas Atikoh. (rls)
