Dalam pelaksanaanya, Kampung Baca di setiap wilayah memiliki pengelola yang merupakan relawan dan secara resmi dikukuhkan oleh Pemkot Yogyakarta. Menurut Budi Santoso, pembinaan dan bimbingan teknis dalam mengelola buku bacaan dan penyelenggaraan kegiatan kepada pengelola Kampung Baca dilakukan secara berkala oleh DPK dan Disdikpora.
“Untuk fasilitasi rak buku serta buku bacaan didukung oleh Disdikpora dan DPK. Tidak jarang juga mendapat donasi buku dari pihak swasta bahkan masyarakat, yang memang ingin bergerak bersama memajukan Kampung Baca. Bahkan relawan pengelola saat diberikan insentif bukan digunakan untuk pribadi tapi dikembalikan lagi untuk pelaksanaan kegiatan Kampung Baca, kami sangat mengapresiasi dan terima kasih kepada masyarakat yang terlibat dalam menghidupkan Kampung Baca,” ungkapnya.
Hingga tahun 2022 sudah ada 31 Kampung Baca yang terbentuk. Rencananya di tahun 2023 ditargetkan menjadi 36 Kampung Baca dan semakin berkembang hingga tersedianya Kampung Baca di 45 Kelurahan Kota Yogyakarta.
Budi Santoso mengungkapkan ke depan Kampung Baca punya potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata edukasi dan pusat industri mikro kecil menengah.
“Ketika setiap Kampung Baca itu kegiatannya sudah memberikan dampak secara nyata dalam meningkatkan literasi dan kesejahteraan masyarakat, kemudian punya karya dan produk yang memiliki ciri khas, tidak menutup kemungkinan bisa menjadi wisata edukasi dan pusat UMKM,” pungkasnya. (Cakram)
