“Pola penataannya kami ingin mendekatkan sungai sebagai area yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja. Selama ini talut seolah memisahkan antara sungai dengan area permukiman. Karena spacenya ada, kami coba buat amphitheater sehingga harapannya nanti sungai itu adalah wahana bersama, bisa kita jaga sama sama,” terangnya.
Sedangkan khusus di Pakuncen dan Klitren indikator kumuh yang belum tertangani dari sisi sanitasi dan membuka akses jalan tepi sungai. Diharapkan dengan penanganan kumuh pada sanitasi itu bisa menurunkan skor indikator sehingga tidak masuk kumuh. Ditargetkan penataan kaawasan kumuh di Klitren selesai pada November 2023.
“Di Klitren dan Pakuncen fokusnya ke penataan sanitasi dan jalan tepi sungai. Jadi nantinya dari sisi operasional untuk pemeliharaan talut maupun mitigasi kalau terjadi longsor dan sebagainya akan lebih mudah kalau ada jalan inspeksi,” tambah Sigit.
Dia menyampaikan luas kawasan kumuh di Kota Yogyakarta saat ini tersisa sekitar 89,36 hektare. Dari luas kawasan kumuh tersebut, sekitar 77 hektare di antaranya berada di bantaran sungai.
Penataan kawasan kumuh di Prawirodirjan saat ini sedang berlangsung. Pembangunan berada di sepanjang bantaran Sungai Code tepatnya di selatan bendung Mergangsan. Misalnya pembangunan pada komponen amphiteather dan lainnya. Salah seorang warga Prawirodirjan Erni Susanti menyambut baik penataan kawasan bantaran sungai yang lokasinya berada di depan tempat tinggalnya. Dia menuturkan selama ini bantaran itu digunakan untuk permukiman warga. “Harapannya lebih bagus, lebih tertata dan dilihat lebih nyaman,” ujar Erni. (*)
