Sejalan dengan itu, Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Aman Yuriadijaya menyampaikan, Festival Langensekar menjadi salah satu agenda pelestarian budaya yang terstruktur dan terukur. Di mana ada keterlibatan penggiat budaya di wilayah dengan anak-anak muda dalam prosesnya.
“Sebelum festival ini terselenggara juga terdapat workshop bagi setiap kontingen kemantren dengan para seniman dan mentor. Artinya ini menjadi agenda yang tujuannya bukan hanya pada perlombaan semata tapi juga secara berkelanjutan untuk regenerasi pelestarian seni dan budaya,” ungkapnya.
Aman berharap melalui Festival Langensekar tersebut menjadi media dalam menciptakan pemahaman akan nilai-nilai budaya dan budi pekeri sejak dini kepada anak-anak. Sehingga dapat berdampak pada pelestarian serta pengembangan seni dan budaya di Kota Yogyakarta.
Sementara itu perwakilan dari kontingen Kemantren Gedongtengen, Yunan menceritakan, persiapan yang dilakukan berlangsung kurang lebih tiga bulan. Mulai dari pembibitan anak-anak di wilayah yang akan berperan sebagai peraga, pengrawit maupun tim produksi hingga proses latihannya.
“Cerita yang kami bawakan adalah Srenggolo Adu-Adu yang merujuk pada relief Candi Borobudur, dengan nilai yang disampaikan adalah bagimana menciptakan kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman. Melalui kegiatan ini kami juga terpantik untuk berproses bersama nguri-uri budaya, melestarikan karawitan, gamelan, tari dan macapat terutama bagi anak-anak,” ceritanya. (*)
