Warga Diimbau Tingkatkan Kewaspadaan pada Masa Peralihan Musim

Pihaknya menekankan pentingnya mitigasi bencana, dengan memetakan potensi kebencanaan di lingkungan tempat tinggal. Dimulai dari mengelola sampah dengan bijak, membersihkan saluran air, memangkas ranting pohon yang berisiko tumbang, memperbaiki atap rumah yang lapuk, serta menyimpan barang berharga di tempat aman.

“Dari total 169 kampung masing-masing telah dibentuk Kampung Tangguh Bencana (KTB), untuk mendorong kemandirian masyarakat memitigasi dan menangani bencana. BPBD tentu menyiagakan personel dan peralatan untuk penanganan cepat bila terjadi bencana. Namun, peran serta masyarakat dalam memitigasi sangat penting untuk mengurangi risiko kerugian,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua KTB Kampung Serangan Kelurahan Notoprajan, Ibnu Hajar menjelaskan, untuk warga yang tinggal di kawasan bantaran sungai telah dibekali penyiagaan bencana lebih ekstra pada fase peralihan musim mengingat ada potensi kerawanan bencana banjir maupun talud longsor.

“Kampung kami berada di bantaran Sungai Winongo, ada dua Early Warning System (EWS) yang dipasang, kesepakatan kami ketika terjadi cuaca ekstrem disertai hujan deras dan angin kencang, kalau water level atau ketinggian air sudah mencapai 250 centimeter warga mulai dievakuasi,” katanya saat dikonfirmasi Rabu 27 Agustus 2025.

Pihaknya menyatakan alarm EWS di Sungai Winongo secara otomatis akan berbunyi saat ketinggian air berada pada 220 centimeter. Dikarenakan bentangan sungai cukup lebar, sebelum volume air semakin tinggi, sudah ada peringatan awal yang dapat membantu proses evakuasi.

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *