Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Irma Putri Damayanti, menambahkan bahwa banyak kasus stunting terjadi karena praktik pengasuhan yang tidak sesuai rekomendasi kesehatan.
“Masalah gizi pada bayi sering muncul karena praktik pemberian makan yang tidak sesuai rekomendasi kesehatan. Banyak bayi di bawah enam bulan sudah menunjukkan tanda kurang gizi karena tidak mendapatkan ASI eksklusif,” jelasnya .
Irma juga menyoroti budaya tidak patuh rujukan, misalnya orang tua enggan melanjutkan pemeriksaan ketika bayi dinilai mengalami masalah tumbuh kembang. Ia juga menampilkan contoh kebijakan penanganan stunting dari sejumlah negara seperti Peru, Thailand, dan Vietnam yang dinilai berhasil menurunkan angka stunting melalui langkah-langkah yang konsisten dan melibatkan berbagai sektor terkait .
Pemateri berikutnya, Penyuluh TP PKK Kabupaten Banjarnegara, Yuni Krisnaningrum, mengajak para peserta untuk lebih memperhatikan pola makan keluarga, terutama ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Menurutnya, masalah gizi sering muncul bukan karena makanan kurang, tetapi karena komposisinya yang tidak seimbang.
“Kuncinya adalah memastikan anak mendapat makanan empat bintang, yaitu karbohidrat, protein hewani, protein nabati, serta sayur dan buah. Ini prinsip dasar yang sebenarnya mudah diterapkan sehari-hari,” jelas Yuni.
