Menurut Gus Yasin, peluang ini semakin terbuka lebar seiring dengan kembali beroperasinya Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang, untuk rute mancanegara. Saat ini, rute langsung (direct flight) dari Singapura dan Malaysia telah tersedia, yang diharapkan mampu memangkas waktu tempuh wisatawan religi menuju jantung Jawa Tengah.
Dalam kesempatan itu, salah satu poin menarik yang dibahas adalah potensi besar pasar Thailand. Berdasarkan masukan dari pengelola kawasan, terdapat tren kuat di Thailand, di mana para orang tua mendorong generasi muda mereka untuk melakukan perjalanan spiritual ke Candi Borobudur.
Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata Kemenko Perekonomian, Herfan Brilianto Mursabdo, mengapresiasi langkah proaktif Pemprov Jateng. Dia menyebut, Jawa Tengah telah berhasil memposisikan diri sebagai destinasi utama pariwisata nasional dan global.
Herfan menegaskan, fokus pemerintah pusat saat ini adalah menyempurnakan MoU, agar aspek aktivitas keagamaan dapat berjalan harmonis, dengan pelestarian cagar budaya, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
“Pangsa pasar wisata religi dan ziarah Hindu-Buddha secara global sangat besar. Fokus kita ke depan adalah memastikan Candi Borobudur dan sekitarnya, benar-benar memberikan manfaat nyata bagi ekonomi rakyat di Jawa Tengah, melalui penyempurnaan tata kelola ini,” pungkas Herfan. (*)
