Selain dua gunungan utama, 17 kelurahan turut membawa gunungan berisi hasil bumi dan produk ekonomi kreatif masing-masing.
Sebelum warga memperebutkan gunungan, suasana diperkuat dengan pementasan sendratari kolosal “Babar Mahardika”. Pertunjukan yang melibatkan 250 penari ini mengisahkan sejarah Magelang pada abad ke-9.
Kepala Disdikbud Kota Magelang, Nurwiyono Slamet Nugroho, menambahkan efisiensi waktu dilakukan agar pesan sejarah dalam pertunjukan dapat diterima lebih baik oleh masyarakat.
Suasana mencapai puncak saat Wali Kota memberikan aba-aba. Ribuan warga langsung menyerbu gunungan gethuk dan hasil bumi.
Tradisi ini dianggap masyarakat sebagai momen “kembul bujono” atau makan bersama sebagai ungkapan syukur atas kesejahteraan yang dinikmati seluruh warga Kota Magelang. (*)
