Kenakan Baju Adat, Mantri dan Lurah Semarakkan Kirab Yuswa Dalem Sri Sultan HB X ke-80

Dalam kirab tersebut, Kelurahan Pakuncen membawa hasil bumi berupa bakpia dan ketupat. Rombongan mereka berjumlah 28 orang. Wisnu juga menyampaikan doa dan harapannya bagi Sri Sultan. “Semoga di usia ke-80 ini, Sri Sultan selalu diberikan kesehatan dan umur panjang,” tambahnya.

Hal serupa disampaikan Andi Astono, peserta kirab dari Kelurahan Purwokinanti, Kemantren Pakualaman. Ia menilai kegiatan ini tidak hanya meriah, tetapi juga sarat nilai budaya.

“Kemeriahan ini dibalut dengan kebudayaan yang mencerminkan Jogja. Ini juga menjadi bagian dari upaya nguri-uri budaya,” ungkapnya.

Kelurahan Purwokinanti sendiri membawa potensi wilayah berupa lemper dan ayam goreng khas Kampung Jagalan. Rombongan mereka berjumlah 15 orang. Andi menuturkan, persiapan yang dilakukan cukup matang, terutama dalam menyiapkan busana adat sesuai ketentuan. “Tidak ada kesulitan berarti, apalagi saya punya banyak teman abdi dalem yang membantu,” jelasnya.

Ia pun turut mendoakan Sri Sultan agar senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang, serta terus menjadi pelindung dan peneduh bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.

Peserta lainnya, Bayu Wijayanto dari Kemantren Mergangsan, juga menyampaikan harapan serupa. Ia menilai kirab ini menjadi momentum penting dalam mempererat silaturahmi antar wilayah. “Acara ini sangat menarik karena dihadiri masyarakat dan perangkat wilayah se-DIY, sehingga mempererat silaturahmi,” katanya.

Kemantren Mergangsan sendiri membawa hasil bumi berupa sayuran segar hasil panen warga serta wajik, yang merupakan produk unggulan dari Kelurahan Wirogunan.

Antusiasme masyarakat juga terlihat dari kehadiran warga yang datang dari berbagai daerah. Salah satunya Umi Rokiyah, warga Sayegan, yang sengaja datang untuk menyaksikan kirab. “Saya datang khusus ingin melihat kemeriahan acara ini secara langsung,” tuturnya.

Menurutnya kirab Mangayubagya Yuswa Dalem ini tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X, tetapi juga menjadi momentum pelestarian budaya serta penguatan kebersamaan masyarakat Yogyakarta. “Semangat gotong royong dan kecintaan terhadap budaya lokal tampak begitu kental, menjadikan peringatan ini sebagai simbol keistimewaan Yogyakarta yang tetap terjaga hingga kini,” jelasnya. (*)

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *