Dalam sambutannya, Kurator Pameran, Rahma Tussofiyah menjelaskan, Pameran “Urip Iku Mung Mampir Ngombe” dilatarbelakangi filosofi pohon bonsai yang dirawat dengan penuh kesabaran hingga menghadirkan keindahan di kemudian hari. Tema tersebut mengangkat falsafah Jawa kuno “Hamemayu Hayuning Bawana” sebagai refleksi pentingnya merawat, memperindah, dan menjaga keseimbangan kehidupan.
Selain itu, berbagai karya dalam pameran dikemas melalui beragam perspektif dengan media yang tidak terbatas. Sebagian besar karya memanfaatkan konsep upcycling dan karya temporer yang nantinya dapat didaur ulang maupun kembali melebur dengan lingkungan.
“Kami meminjam bonsai sebagai metafora praktik merawat yang telaten. Kebaikan kecil mungkin tidak langsung terlihat dampaknya, tetapi jika dirawat dengan konsisten akan tumbuh menjadi sesuatu yang indah dan memberi kehidupan,” jelasnya.
Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah Tata Kelola Seni, Mikke Susanto mengatakan pameran ini menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam melalui pendekatan seni visual.
Ia menyebut Kota Yogyakarta sebagai Kota Budaya membutuhkan banyak sumber daya manusia di bidang tata kelola seni, terutama di tengah berkembangnya ruang seni, museum, galeri, hingga event kebudayaan di DIY.
