Bukan Sekadar Lari, Ada 50 Titik Pertunjukan Seni di Rute Mangkunegaran Ru

Luthfi berharap, kegiatan tersebut mampu menggerakkan ekonomi daerah. Menurutnya, Mangkunegaran Run bukan sekadar soal kesehatan fisik, melainkan ajang promosi keunggulan daerah dan pola hidup sehat.

“Semua olahraga yang menunjang kesehatan itu baik. Ini juga menunjang pariwisata dan promosi wisata wilayah kita. Secara tidak langsung, ekonomi UMKM berjalan, masyarakat sehat, dan hidup menjadi lebih bersemangat,” jelasnya.

Peserta Mangkunegaran Run, Arnold Poernomo manyatakan telah mengikuti kegiatan ini untuk kali kedua. Mengenakan perlengkapan lari lengkap, dia tak henti-hentinya memuji suasana rute yang steril dan rapi.

“Ini seru, keren sekali! Start-nya tadi di Manahan Stadium, dengan vibe yang epic. Rutenya jelas dan udaranya mantap,” ujar Arnold yang juga selebriti ini.

Baginya, nilai plus dari acara ini adalah sisipan budaya. Sepanjang jalan, para pelari disuguhi pertunjukan tari dan musik tradisional, yang memberikan energi tambahan.

“Ada kesan melihat budaya, ada tarian juga. Setelah ini rencananya mau kulineran di Solo, lalu masuk lagi ke dalam Mangkunegaran,” tambah Arnold.

Hal senada diungkapkan Dina (39), peserta asal Jakarta yang memboyong 30 orang anggota komunitas larinya. Bagi Dina, Mangkunegaran Run adalah pengalaman pertama yang sangat berkesan.

“Seru banget! Aku ikut yang 10K. Tadi ada gamelan dan anak-anak pakai baju Jawa yang keren banget. Solo banget pokoknya. Kami rencana stay empat hari di sini, khusus untuk lari dan kulineran,” kata Dina.

Sebagai informasi, Mangkunegaran Run 2026 merupakan rangkaian perayaan Adeging Mangkunegaran ke-269. Jumlah peserta gelaran tahun ini melonjak sekitar 40% dibanding tahun sebelumnya. Keterlibatan masyarakat lokal ini diprediksi akan meningkatkan perputaran ekonomi melampaui angka Rp40 miliar, yang tercapai pada tahun sebelumnya.

Dengan pelari yang datang dari berbagai penjuru Indonesia, Mangkunegaran Run 2026 sukses mengukuhkan diri sebagai salah satu event lari paling ikonik, yang menyatukan semangat raga dan keluhuran budaya di Jawa Tengah. (*)

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *