Warisan Abad ke-16, Ribuan Warga Saksikan Ritual Tolak Bala Perang Obor di Jepara

Menurut wagub, ritual tersebut pada hakikatnya merupakan bentuk doa masyarakat kepada Tuhan, agar dijauhkan dari musibah dan diberi keselamatan. “Ini bentuk doa agar masyarakat diangkat dari bala dan diberi keselamatan,” lanjut Taj Yasin.

Dia menilai, event budaya seperti Perang Obor mampu menggerakkan ekonomi warga, sekaligus memperkenalkan identitas lokal Jepara kepada masyarakat luas. Terbukti, antusiasme masyarakat terlihat tinggi sejak sore hari. Banyak pengunjung datang dari luar daerah, untuk menyaksikan langsung tradisi khas Jepara tersebut.

Salah seorang pengunjung, Jatus, mengaku sengaja datang bersama keluarganya dari daetah Batealit Jepara untuk menikmati kemeriahan Perang Obor. “Sudah dua kali nonton. Tahun ini lebih seru,” ujarnya.

Jatus mengatakan, meski cuaca sempat diguyur hujan, masyarakat tetap bertahan memenuhi lokasi acara. Dia berharap, tradisi tersebut ke depan semakin ramai dan terus dilestarikan sebagai identitas budaya masyarakat Jepara.

Di sisi lain, Perang Obor juga menjadi bagian hidup masyarakat Tegalsambi, yang terlibat langsung sebagai pelaku tradisi. Salah satunya Petruk, warga yang sudah mengikuti Perang Obor sejak 2000, atau sekitar 26 tahun terakhir. “Saya ikut Perang Obor mulai tahun 2000,” terangnya.

Tak hanya dirinya, tradisi tersebut kini juga diteruskan anaknya sebagai generasi penerus keluarga. “Anak saya juga ikut. Ini tradisi turun-temurun,” ungkap Petruk.

Dia berharap Perang Obor tetap lestari dan semakin dikenal luas, tanpa kehilangan nilai budaya yang diwariskan leluhur.

Sebagai informasi, Tradisi Perang Obor telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2020. (*)

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *