Lalu apa yang mesti kita lakukan?
Sikap arif. Hindari stigmatisasi. Buat keluarga hangat untuk anak-anak kita.
Di banyak peristiwa, yang kurang diungkap adalah skenario dan dorongan—bahkan ancaman—dari orang dewasa di balik layar. Yang tidak kita sadari: anak-anak itu juga korban.
Pelaku sesungguhnya jarang diidentifikasi. Grey area.
Ada anak sebagai pelaku, sebagai subjek, tapi sekaligus bisa disebut objek. Atau dengan kata lain: anak sebagai pelaku, juga disebut sebagai korban.
Jika cara berpikir ini benar, lalu siapa yang bertanggung jawab?
Secara mata telanjang, kita menemukan pelakunya adalah sosok yang masih berusia anak. Tidak bisa dipungkiri. Tapi untuk mengurai ini, beberapa pihak bisa kita minta pertanggungjawaban.
Pasal 20 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan jelas menyebut: “Negara, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Masyarakat, Keluarga, dan Orang Tua atau Wali” berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan Perlindungan Anak.
Maka pertanyaan dari para akademisi dan pegiat hak anak akan bersenandung nyaring: “Benarkah para pihak di atas sudah menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya?”
Jika jawabannya “belum”, maka simpulannya: apakah anak pelaku terbebas dari ‘tuduhan’ sebagai pelaku tindak pidana? Artinya, tindakan anak tersebut adalah akibat dari kealpaan dan pengabaian para pihak yang wajib melindungi.
Cara pandang ini lebih ditekankan pada pemahaman definitif bahwa anak—dalam ketentuan UU Perlindungan Anak Pasal 1 ayat (1)—adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak dalam kandungan. Dan perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak serta hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Catatan tema ini baru saya buat dari satu perspektif: children’s rights. Masih perlu perspektif lain. Mari kita bersenandung secara waras untuk mendiskusikan bersama.
Supaya kita tidak selalu menjadi HAKIM atas egoisme individual.(sm)
