Ali menambahkan, pangsa ekspor nonmigas ke AS, Jepang, dan Tiongkok mendominasi hingga 61,97 persen dari total ekspor nonmigas Jawa Tengah.
Rinciannya, nilai ekspor nonmigas ke Amerika Serikat mencapai 3.297,62 juta dolar AS, disusul Jepang sebesar 546,64 juta dolar AS, dan Tiongkok sebesar 308,49 juta dolar AS. Komoditas unggulannya mencakup pakaian dan aksesori (rajut maupun non-rajut), perlengkapan elektrik, hingga produk perikanan (ikan, krustasea, dan moluska).
Meski kinerja ekspor mencatatkan tren positif, neraca perdagangan kumulatif Jawa Tengah pada Januari–Juni 2026 masih mengalami defisit. Hal ini disebabkan oleh tingginya nilai impor yang mencapai 8.505,88 juta dolar AS.
Kenaikan impor tersebut dipicu oleh meningkatnya permintaan bahan baku atau barang penolong sebesar 27,12 persen, disusul kenaikan impor barang konsumsi dan barang modal.
“Secara kumulatif pada Januari–Juni 2026, neraca perdagangan Jawa Tengah mengalami defisit sebesar 1,29 miliar dolar AS (1.298,19 juta dolar AS). Defisit ini dipicu oleh komoditas migas yang defisit 2.827,98 juta dolar AS. Namun, jika hanya memperhitungkan komoditas nonmigas, Jawa Tengah sebenarnya masih surplus 1.529,80 juta dolar AS,” pungkas Ali. (*)
