UNGARAN, Cakram.net – Potensi kopi di Kabupaten Semarang cukup bagus, salah satunya di Kecamatan Sumowono yang letaknya di lereng Gunung Ungaran. Oleh karena itu, Pemkab Semarang perlu mengembangkan agrobisnis agar kehidupan petani kopi di Sumowono serta wilayah lain di Kabupaten Semarang bisa lebih sejahtera.
“Produksi biji kopi robusta di Kecamatan Sumowono berkisar 100 ton per tahun setiap musim panen, dan 13 ton per tahun untuk kopi jenis arabica. Yang harus dilakukan pemerintah daerah adalah mengembangkan agroindustri, bagaimana kopi bisa mensejahterakan masyarakat,” kata Ketua Fraksi PAN DPRD Kabupaten Semarang, Said Riswanto, Jumat (18/10/2019).
Menurut Said, harga jual biji kopi robusta dari Sumowono saat ini antara Rp 20.000-Rp 21.000 per kilogram (kg). Sedangkan biji kopi arabica harga jual di pasaran berkisar Rp 60.000/kg. “Padahal kalau sudah digiling dan dikemas, harga jual kopi dari Sumowono bisa tembus Rp 100.000-Rp 120.000 per kilogram. Sehingga keuntungannya lebih besar, bisa dua sampai tiga kali lipat dibandingkan bentuk biji kop,” ungkapnya sembari menyampaikan harga jual kopi dalam kemasan itu dipotong biaya roasting Rp 20.000 dan pembelian kemasan.
Said berharap Pemkab Semarang membantu alat roasting untuk petani kopi di Sumowono. Sehingga petani tidak terkena biaya roasting, yang mengurangi keuntungan petani. “Hasil panen kopi belum bisa mensejahterakan kehidupan petani kopi di Sumowono. Harapan kami pemda mengarahkan pasca produksi,” tandas anggota Komisi A itu.
Kata Said, petani perlu dilatih mengenai bagaimana mengelola biji kopi mulai petik merah, pengeringan, roasting (penggorengan), penggilingan dan pengemasan bubuk kopi hingga pemasarannya. Saat ini proses pengeringan biji kopi di Sumowono masih di jalan tanpa alas, dan petani belum paham cara penggorengan yang betul sehingga mempengaruhi kualitas dan rasa kopi.
‘’Dinas Pertanian, Disperindag dan Dinas Pariwisata harus satu tujuan untuk mengembangkan agroindustri kopi di Kabupaten Semarang, karena potensinya cukup besar. Produksi biji kopi basah di sumowono masih 6-7 ton per hektar, harapan kami bisa seperti di Kecamatan Jambu mencapai 10 ton per hektar. Di Sumowono ada 50 kelompok tani lebih, tapi yang eksis hanya 30-an kelompok,” jelas Said.
Said berharap ketika panen raya kopi ada komunikasi antara petani dengan Pemkab Semarang. Sehingga ketika ada surplus produksi bisa diikutkan pasar lelang kerjasama dengan Disperindag agar cepat terserap. “Sementara ini petani kopi di Sumowono masih bergantung dua perusahaan, dari Jateng dan Jatim. Sehingga daya tawarnya rendah, beda kalau ikut pasar lelang kan yang menawar banyak,” ujarnya. (dhi)
