KENDARI, Cakram.net – Pengamat politik dari Sulawesi Tenggara Doktor Najib Husain menilai suara milenial merupakan suatu kelompok yang strategis dalam memenangkan peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020.
“Kenapa kelompok milenial dianggap sangat strategis? Karena ketika kita mendapatkan perhatian dari kelompok milenial ini, pertarungan kita di dunia maya (media sosial) itu sangat membantu seorang kandidat,” kata Najib Husen di Kendari, Minggu (22/12/2019).
Ia juga mengungkapkan bahwa secara tidak langsung kaum milenial menjadi “mesin politik” untuk dijual kepada para pemilih.
Menurut dia, potensi kaum milenial tidak dimiliki para pemilih yang berusia di atas mereka karena cenderung tidak memanfaatkan teknologi yang ada.
“Makanya, saya selalu mengatakan para kandidat harus memiliki tim IT karena tim ini sangat berguna untuk melakukan edukasi politik,” ujarnya.
Apabila pasang calon telah berhasil menggaet suara milenial, artinya sudah mengantongi suara 30 persen di daerah pemilihan.
Najib Husen menegaskan bahwa suara milenial dapat memberikan dampak terhadap lapisan-lapisan pemilih lain melalui media sosial.
“Akan tetapi, pendekatan elite itu tetap menjadi strategi utama, lalu pemilih melenial menjadi pemilih tambahan,” katanya menerangkan.
Ia mencontohkan calon peserta dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang bakal berkompetisi pada pilkada mendatang. Partai ini telah meluncurkan “PKS muda dan Garuda Keadilan” sebagai salah satu strategi politiknya untuk menggaet suara kaum milenial. (ant)
