SOLO, Cakram.net – Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 4.0 dan 5.0 harus dibarengi dengan kekuatan spriritual keagamaan agar kehidupan tidak terpisah dengan nilai-nilai karakter. Disadari atau tidak bahwa spiritual keagamaan sebagai sumber kebahagiaan yang selama ini dirasakan sebagai adanya kekurangan maka perlu dimaksimalkan.
Hal itu ditandaskan Prof Dr Asrowi MPd dalam pidato bertajuk ‘Konseling Spriritual sebagai alternative penguatan karakter era Society 5.0 di dunia pendidikan’ saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Pendidikan Bidang dan Konseling FKIP UNS dalam sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta di Auditorium kampus UNS, Rabu (26/2/2020). Dalam sidang senat yang dipimpin Rektor UNS Prof Dr Jamal Wiwoho SH M.Hum juga dikukuhkan Prof Ir Winny Astuti MSc PhD dan Prof Dr.Eng Agus Purwanto ST MT sebagai guru besar Fakultas Teknik.
Menurut Asrowi, akhir-akhir ini ada kecenderungan masyarakat menata kembali kehidupan secara pribadi keluarganya maupun kemasyarakatan dengan landasan spuiritual agama. Banyak kalangan elit merasakan kehidupan materi dan melimpahnya harta bukan merupakan jaminan untuk mencapai kebahagiaan bathiniah.
“Kompleksitas problem di era globalisasi dunia memang sulit dikendalikan, melaju dengan kecepatan sangat dahsyat yang menimbulkabn masalah moral. Keluarga, sekolah dan masyarakat perlu mengantisipasi dinamika akseleratif ini agar tidak kehilangan nilai-nilai pendidikan yang seharusnya merupakan tanggung jawab bersama,” katanya.
Sementara Winny Astuti guru besar bidang Ilmu Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik UNS dalam pidato pengukuhannya menegaskan, perencanaan perumahan dan pemukiman ke depan harus terintegrasi dengan perencanaan kota dan wilayah. Sekaligus mengintegrasikan seluruh aspek kehidupan dalam mendukung pengembangan ekonomi lokal masyarakat dan pengentasan kemiskinan.
“Interorganizational networks perlu dikembangkan dan colaborative planning menjadi instrumen di dalam membangun kerjasama yang terintegrasi antar berbagai komponen pembangunan kota menuju pengentasan kemiskinan kota secara berkelanjutan,” tegasnya.
Adapun Agus Purwanto guru besar bidang Ilmu Teknik Kimia Fakultas Teknik dalam pidato pengukuhannya menyatakan, proses pembuatan baterei Lithium Ion sudah bisa dilakukan mulai dari pembuatan bahan baku sampai aplikasi pada peralatan. Pengembangan ke arah komersialisasi menjadi pilihan selanjutnya. Secara praktis baterei litihium ion masih mempunyai banyak kelemahan dan harus dicari solusinya.
“Pengembangan baterai jenis lain seperti baterei sodium, alumunium, sulfur atau jenis lain yang secara teknologi mempunyai prospek yang baik akan terus dilakukan. Berpegang pada kemandirian teknologi, penggunaan material dan bahan baku yang tersedia melimpah di Indonesia menjadi prioritas kami,” ungkapnya.
Rektor UNS Jamal Wiwoho dalam amanatnya menegaskan, kehadiran guru besar dengan kapasitas akademik berikut intelektualitas tinggi diyakini paling mampu berdamai dan hidup berdampingan ditempat kerja dengan kecerdasan buatan serta kecanggihan mesin di era 4.0. Guru besar harus kreatif bukan malah reaktif, karena reaktif cenderung menutup diri terhadap alternatif, terlalu cepat bereaksi untuk segala hal, mudah tersinggung, dan lebih melihat kesulitan di balik setiap kesempatan.
Guru besar, lanjut Jamal, dituntut bekerja dalam alam realistis. Selain itu, memiliki keberanian dan kepekaan sosial serta berpikir terbuka untuk melihat jauh ke depan.
“Disruption pada dasarnya sebuah inovasi. Karena itu dosen harus merdeka bergerak dan mengambil inisiatif untuk berinovasi melakukan hal baru dengan masa kadaluwarsa relatif cepat. Kami bangga lahirnya kembali guru besar UNS yang dari segi usia masih relatif muda, sehingga masa pengabdian, produktifitas dan prospek pengembangan karier bersangkutan masih sangat panjang,” katanya.
Menurut dia, dengan pengukuhan 3 guru besar baru maka jumlah guru besar UNS menjadi 218 orang. Sebanyak 119 orang di antaranya guru besar aktif. (baw/dhi)
