Pemkab Kulon Progo Petakan Jalur Jalan Bedah Menoreh

Berbagi berita ...

KULON PROGO, Cakram.net – Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, memetakan jalur yang akan digunakan untuk pembangunan jalan Bedah Menoreh yang menghubungkan Bandara Internasional Yogyakarta menuju Candi Borobudur.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kulon Progo Triyono di Kulon Progo, Senin (27/7/2020), mengatakan saat ini, Pemkab Kulon Progo menyiapkan dokumen perencanaan dan persiapan pengadaan tanah untuk Bedah Menoreh.

“Pada 2021, tahapan persiapan ada di Pemda DIY, dan pada 2022 eksekusi pembebasan lahan,” kata Triyono.

Triyono mengatakan pembangunan jalan Bedah Menoreh sangat mendesak dilaksanakan karena menjadi modal dasar bagi pemkab dalam menggerakkan ekonomi masyarakat, melalui potensi wisata dan potensi produk lokal.

Bedah Menoreh akan mendukung pengembangan pariwisata guna mengangkat potensi lokal, yang diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah utara dengan adanya pembangunan bandara dan ditetapkannya Bukit Menoreh sebagai kawasan penyangga Kawasan Strategis Pembangunan Nasional (KSPN) Borobudur.

“Kami saat ini juga mengupayakan pembiayaan Bedah Menoreh dari Pemda DIY dan KemenPUPR supaya cepat selesai,” katanya.

Bupati Kulon Progo Sutedjo mengatakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kulon Progo mulai melakukan pemetaan wilayah atas rencana jalur Bedah Menoreh.

Dari rencana semula total panjang jalur sekitar 53 kilometer kemudian dipangkas dengan pelurusan jalur atau pemilihan kontur trase sehingga bisa didapat jarak lebih pendek yakni 53 kilometer. Dari panjang tersebut, 23 kilometer sudah terselesaikan dengan ruas jalan provinsi dalam dua lajur. Tersisa panjang trase 30 kilometer yang belum terselesaikan karena masih perlu pelebaran jalan dan pengondisian pembangunan fisiknya.

Ada beberapa ruas yang belum bisa tersambung karena dibuat jalan baru, terutama yang jalan eksistingnya berupa belokan tajam atau tanjakan dan turunan curam. Sutedjo menyebut, pada beberapa ruas memiliki phase base yang cukup sulit karena ada jurang yang dalam di tepiannya. Ada juga yang sudah saling menyambung namun trasenya masih kurang layak. Tak heran, proyek ini membutuhkan waktu panjang untuk menyelesaikan.

“Bahkan RPJMD 2017-2022 juga belum bisa selesai kalau kita mengandalkan APBD dan dana keistimewaan,” katanya.

Sutedjo mengatakan kawasan Bukit Menoreh yang meliputi Kecamatan Kokap, Girimulyo, Samigaluh dan Kalibawang merupakan wilayah kantong kemiskinan di wilayah ini, sehingga perlu dibangunkan infrastruktur supaya menggerakkan ekonomi masyarakat. Selain itu, jalan Bedah Menoreh yang menjadi program utama Pemkab Kulon Progo dibangun di kantong-kantong kemiskinan. Untuk itu, kami berharap Pemda DIY mengalokasikan dana keistimewaan untuk pembangunan jalan.

“Kemampuan keuangan daerah sangat terbatas. Untuk percepatan pembangunan jalur Bedah Menoreh sangat mengandalkan dana keistimewaan,” katanya.

Dia mengatakan pembangunan jalan Bedah Menoreh, karena saat ini, diharapkan menggerakkan sedikitnya 12 destinasi di kawasan Bukit Menoreh. Destinasi wisata tersebut siap menyambut adanya Bandara Internasional Yogyakarta. Adapun destinasi wisata yang dimaksud, yakni Waduk Sermo, Kalibiru, Pule Payung, Sungai Mudal, Gua Kiskendo, hingga Kebun Teh Nglinggo Tritis.

Menurut dia, kalau tidak membangun infrastruktur jalan di kawasan Bukit Menoreh, masyarakat hanya akan menjadi penonton dengan adanya Bandara Internasional Yogyakarta.

“Kami sudah mulai membangun jalan Bedah Menoreh sesuai kemampuan keuangan daerah, dan berusaha mengakses dana dari pemerintah pusat dan dana keistimewaan,” katanya. (Ant/Cakram)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *