Bantul Latih Pengrajin Bambu Tingkatkan Ekspor

Berbagi berita ...

BANTUL, Cakram.net – Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta memberikan pelatihan kepada perajin atau pelaku usaha kecil pengolahan bambu daerah ini guna meningkatkan ekspor produk kerajinan tersebut.

“Kami juga mengembangkan kerajinan bambu ini dengan pelatihan-pelatihan, karena di Bantul itu punya potensi besar terhadap kerajinan bambu, dan menjadi salah satu komoditas ekspor di Bantul,” kata Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Bantul Agus Sulistiyana di Bantul, Rabu (18/11/2020).

Menurut dia, potensi kerajinan bambu yang saat ini berkembang di Bantul diantaranya di wilayah Kecamatan Sedayu dan Dlingo, dikarenakan bahan baku yang tersedia di daerah tersebut melimpah, sehingga harapannya potensi kerajinan di daerah itu harus terus dikembangkan.

Selain bambu, kata dia, pihaknya juga telah memberikan pelatihan terhadap pengrajin gula kelapa dan gula semut menyusul potensi ekspor komoditas makanan yang terus bisa ditingkatkan volumenya.

“Kemarin kami juga pelatihan gula kelapa, gula semut dan sebagainya itu dalam rangka meningkatkan ini (ekspor), karena di Kulon Progo itu luar biasa, dan sebetulnya Bantul itu potensinya sama dengan Kulon Progo kaitan ketersediaan bahan baku, sehingga kita jangan sampai kalah,” katanya.

Sementara itu, Agus mengatakan, berdasarkan data yang diperoleh pada Tahun 2020 hingga Agustus, nilai ekspor dari Kabupaten Bantul mencapai sebesar 69,6 juta dolar AS, dengan total volume ekspor sebanyak  8.681,2 ton.

“Kemudian untuk komoditi terbanyak berdasarkan nilai ekspor, yang pertama adalah pakaian jadi tekstil, kemudian yang kedua mebel kayu, dan ketiga sarung tangan kulit, keempat rambut palsu, dan kelima gula kelapa,” katanya.

Sedangkan komoditi terbanyak berdasarkan volume, kata Agus yang pertama adalah mebel kayu, kemudian kerajinan batu, gula kelapa, pakaian jadi tekstil, dan terakhir kerajinan bambu.

“Sementara negara tujuan ekspor dari Bantul terbesar adalah China, Amerika Serikat, Australia dan sejumlah negara di Eropa,” katanya. (Ant/Cakram)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *