Embung Pagergunung, Spot Selfie Baru di Ngablak Magelang

Berbagi berita ...

MAGELANG, Cakram.net – Air dan hujan menjadi hadiah terindah dari Tuhan bagi masyarakat di wilayah Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. Dengan potensi alam dan budaya beragam, Kecamatan Ngablak layak menjadi destinasi wisata nan ramah.

Camat Ngablak Imam Wisnu Kusuma mengatakan wilayahnya memiliki 16 desa yang terkenal sebagai penghasil sayuran. Kegiatan bertani itu juga telah mempengaruhi tradisi dan budaya warga Ngablak seperti tari Soreng. Kesenian budaya yang sudah mendunia hingga ke istana negara itu memiliki gerakan dinamis nan komplit seperti orang bertani di ladang.

“Karena di sini dari dulu masyarakat di bidang pertanian, saya kira gerakan keseniannya itu terkait juga dari kebiasaan masyarakat. Karena kebudayaan itu kan sumbernya dari kebiasaan,” kata Imam dilansir dari laman Pemkab Magelang, Jumat (12/2/2021).

Saat itu hujan mulai reda, cuaca di sekitar Kantor Kecamatan Ngablak kemudian sedikit berkabut dan terlihat masyarakat kembali sibuk di pasar Agrobisnis yang tak jauh dari pusat pemerintahan.

Setiap hari Pasar sayur Ngablak ini selalu ramai oleh transaksi jual beli aneka sayuran segar hasil panen para petani. Aneka sayuran itu merambah ke wilayah Jawa tengah dan kota lainnya.

Ladang pertanian menurut Imam tersebar di lereng Gunung Merbabu, Andong dan Telomoyo. Ketiga gunung itu juga menjadi potensi wisata yang terkenal dengan panorama alamnya.

Selain itu, lanjutnya, guna mendukung peningkatan sektor pertanian terdapat embung yang dibangun oleh pemerintah pusat. Kini fungsi yang lain dari embung itu adalah untuk pariwisata dengan ribuan wisatawan berkunjung sebelum pandemi Covid-19. Pada sisi pariwisata diharapkan jika masyarakat ke Telomoyo ada tempat lain yang bisa disinggahi yang sejalur yaitu embung di Pagergunung.

“Dari fungsi pertaniannya dapat, fungsi pariwisatanya jika dikelola dengan baik maka mendatangkan pendapatan bagi masyarakat setempat,” papar Imam.

Diungkapkan Imam, keberadaan embung Pagergunung itu memotivasi desa lain untuk mengembangkan potensi masing-masing. Bahkan ada desa lain yang juga mengajukan pembangunan embung lagi yang lebih besar di Desa Bandungrejo.

Adalah Kepala Desa Pagergunung Wahrodi yang mendorong pembangunan embung Pagergunung itu. Embung cantik berlatar belakang sejumlah gunung beserta hamparan sawah ini berada di tanah kas desa seluas 1.000 meter persegi.

Kapasitasnya mampu menampung air sekitar 14.000 meter kubik dengan kedalaman 3,5 meter dengan total anggaran dari Kementrian PUPR mencapai Rp 4 milyar lebih.

Diceritakan Wahrodi, sumber air embung Pagergunung adalah air terjun Sumuran, dari gunung ke gunung yang kemudian dialirkan melalui jaringan irigasi ke ladang pertanian. Selain dimanfaatkan oleh petani Ngablak, air embung Pagergunung juga mengairi persawahan di wilayah Kecamatan Grabag.

“Setelah terdapat embung ini, musim kemarau pasokan air terjaga, petani tidak kekurangan dan melimpah di musim hujan,” ujar Kades berusia 43 tahun ini.

Wahrodi mengaku mimpi desanya memiliki destinasi wisata unggulan yang bermanfaat bagi pertanian telah tercapai. Langkah selanjutnya adalah mempertahankan integrasi antara wisata dan pertanian yakni menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH), kios UMKM dan lahan pertanian di sekitar embung.

“Nantinya embung menjadi eduwisata pertanian lengkap, ada UMKM dumplot tanaman jeruk dan aneka hortikultura untuk pembelajaran wisatawan,” jelas dia. (Cakram)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *