KLATEN, Cakram.net – Program penanaman padi Srinar dan Srinuk yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten terus diperluas lahan tanamnya. Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas beras rojolele yang merupakan varietas padi unggulan asli Kabupaten Klaten.
Padi Srinar dan Srinuk merupakan hasil pengembanan dan rekayasa genetika varietas padi rojolele yang menjadi kebanggaan petani Klaten. Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten, Widiyanti mengatakan meski merupakan produk unggulan, namun minat petani untuk menanam varietas ini semakin menurun lantaran memiliki banyak kelemahan dibandingkan varietas lainnya.
“Sejak beberapa tahun lalu, rojolele mulai jarang ditanam karena memiliki beberapa kelemahan. Di antaranya umur tanam yang panjang hingga 155 hari, tinggi tanaman mencapai 160 cm sehingga mudah rebah bahkan sebelum panen dan tidak tahan terhadap hama penyakit,” ungkapnya, dilansir dari laman Pemkab Klaten, Rabu 17 November 2021.
Upaya perbaikan terhadap varietas Rojolele lantas dilakukan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) dengan radiasi sinar gamma pada dosis 200 grey. Setelah melalui berbagai tahapan uji yang disyaratkan oleh Kementerian Pertanian selama kurun waktu 6 tahun, dihasilkan varietas baru yakni Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar yang lebih unggul.
