Di sisi lain, gawai kini sudah menjadi hal yang lumrah bagi kebanyakan orang. Tidak hanya orang dewasa saja, tapi juga anak-anak. Seakan menjadi kebutuhan khusus dan tidak bisa dihilangkan.
Kendati demikian, Andi melanjutkan, dolanan tradisional seyogyanya tidak kalah dengan kecanggihan teknologi.
Selain menggelar pameran, Andi bersama kawan-kawannya juga mengenalkan beberapa karya, tembang, dan dolanan tradisional kepada anak-anak. Seperti tembang dolanan jaranan, cublak-cublak suweng, layangan, egrang batok, dan lain-lain.
Setiap dolanan, kata dia, juga memiliki makna tersendiri sehingga sedikit banyak dapat mengedukasi anak-anak. Misal egrang batok, dimana dari permainan tersebut, dapat diambil sebuah pelajaran bahwa manusia harus bisa berdiri tegak dan dapat menyelesaikan apapun masalah yang dihadapi.
Andi juga mengatakan, para guru yang mendampingi siswa-siswanya juga mengapresiasi kegiatan tersebut. Mereka ingin jika kegiatan semacam pengenalan dolanan tradisional tetap berjalan secara kontinyu. Bahkan, bisa dimasukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
