Bahkan di SMPN 2 Klaten tempatnya mengajar, ada komunikatas Jendal Maja, yakni Jemparingan Dalu Malam Jumat yang diikuti pelajar setempat.
“Jemparingan itu olahraga unik. Selain pemanah harus menggenakan baju surjan, tutup kepala blangkon,dan kain jarik, saat memanah pun harus bersila di tanah alias bersimpuh. Gendewa atau alat memanah dan busurnya pun sederhana dari kayu bambu. Jadi sangat menantang” jelas Tonang yang asli Desa Dukuh, Bayat, Klaten, dilansir dari klatenkab.go.id, Selasa 12 Juli 2022.
Biar pun peminatnya belum banyak Tonang Yuniarto, guru olahraga SMPN 2 Klaten itu mengatakan kalau jemparingan itu sarat filosofi orang Jawa. Tidak saja alat dan busananya yang sederhana khas, tapi cara memeragakan saat memanah menunjukan nilai kesetaraan antar umat manusia.
“Para Senopati perang Kraton dulu menggunakan Jemparingan sebagai saluran berbicara dengan rakyat jelata. Ketika mereka menarik busur dengan anak panah yang sudah dikokang, mereka semua harus duduk bersimpuh. Disinilah nilai kesetaraan itu dan menghapus sekat perbedaan. Tidak ada ningrat, tidak ada rakyat. Status tidak membuat jarak antara kaum kerajaan dengan rakyat” ungkapnya.
Terkait geliat jemparingan di Klaten, Tonang Yuniarto mengatakan akan dimasukan dalam agenda Hari Jadi Klaten 2022. Dijelaskan kalau jemparingan itu akan digelar di Lapangan Kalibajing, Klaten.
