“Kedua, memasuh malaning bumi adalah falsafah yang menghendaki setiap manusia untuk membersihkan segala sesuatu yang mengotori kehidupan,” ujarnya.
Dalam konteks pembangunan, lanjutnya, aktualisasi dari falsafah tersebut adalah membersihkan narasi-narasi kotor dan membersihkan niat dalam pembangunan. Membangun hanya semata-mata untuk mensejahterakan dan mencerdaskan rakyat. Menghindari korupsi, kolusi, suap, kongkalikong, dan gratifikasi dalam proses pembangunan bangsa, adalah contoh praktek dari falsafah ini.
“Ketiga, memayu hayuning bawana adalah falsafah yang menghendaki setiap manusia agar memperindah keindahan dunia, serta mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan hidup,” jelasnya.
Dalam kosmologi masyarakat Jawa Tengah, memayu hayuning bawana mengejawantah sebagai spiritualitas budaya yang mengutamakan keharmonisan dalam hidup. Dalam konteks pembangunan, falsafah tersebut dapat diaktualisasikan dengan prinsip pemerataan pembangunan agar tidak tercipta kesenjangan sosial yang dapat merusak keharmonisan kehidupan.
Apabila dielaborasi secara konstruksional, maka tiga falsafah Jawa Tengah di atas, imbuh Wagub, berderivasi pada tiga nilai esensial pembangunan nasional. Yakni, pembangunan sumberdaya manusia berbasis pembangunan berkelanjutan, pembangunan kesejahteraan, dan pemerataan pembangunan.
