Pemkot Yogyakarta Lakukan Uji Operasional Hidran Kering di Kampung Notoprajan

“Dari hasil uji coba, dua siamese yang sudah memenuhi standar tekanan PMK di atas 4,5 bar. Satu Siamese diuji ulang karena tekanan masih 3 bar,” imbuhnya.

Hasil uji commissioning tersebut akan menjadi bahan untuk evaluasi. Terutama untuk memastikan hidran kering kampung yang dibangun berfungsi dan memenuhi standar. Pembangunan hidran kering di Kampung Notoprajan yang dimulai Juli 2022 itu menggunakan anggaran APBD Kota Yogyakarta dengan nilai kontrak sekitar Rp724 juta.

Keberadaan jaringan hidran kering di kampung untuk membantu pemadaman kebakaran agar lebih mudah dan cepat. Terutama di kampung-kampung padat penduduk yang kondisi jalan tidak bisa diakses dengan mobil pemadam kebakaran. Sampai tahun 2022 Pemkot Yogyakarta sudah membangun jaringan hidran kering di 14 kampung di antaranya Notoprajan, Ngadiwinatan, Purwodiningratan, Pingit, Semaki Gede, Ronodigdayan, Jlagran dan Basen.

“Hidran kering adalah solusi apabila terjadi kebakaran di wilayah padat. Apabila mobil pemadam kebakaran tidak bisa masuk ke wilayah padat, maka ada hidran kering ini,” tambah Intan.

Dia menjelaskan apabila terjadi kebakaran maka penanganan awal dilakukan oleh relawan pemadam kebakaran yang lebih dekat lokasinya. Dalam box hidran juga ada dua konektor dan stop valve ukuran 1,5 yang dioperasionalkan untuk relawan pemadam kebakaran dan ukuran 2,5 bagi pasukan pemadam kebakaran. Setiap box hidran dikunci dan diserahkan ke wilayah seperti RW maupun yang terdekat dengan lokasi box hidran. (Cakram)

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *