Diterangkannya, pada akhir pekan ini, pihak sekolah akan melakukan visitasi ke rumah masing-masing calon siswa. Guna membuktikan, apakah benar calon peserta didik berasal dari kalangan keluarga miskin atau tidak. Mengingat, prioritas utama dalam program ini, selain diperuntukan bagi warga Jateng, juga mutlak harus berasal dari keluarga miskin.
“Verifikasi data kemiskinan. Karena 60 persen untuk bobot kemiskinan kami rekrut. Jadi betul-betul harus miskin. Apalagi visinya kan menghasilkan lulusan sebagai pelopor dan penggerak pengentasan kemiskinan di Jateng,” bebernya.
Perwakilan dari Lembaga Psikologi Cahaya Hati Kota Semarang selaku penyelenggara psikotes, Nurina, MPsi. Psi, CHA, CGA mengatakan, psikotes bertujuan untuk memilih bibit terbaik yang akan menjadi siswa di SMKN Jateng.
“Yang diseleksi meliputi ketahanan mereka dalam mengerjakan tugas, kemampuan kognitif, dan juga motivasinya, serta gambaran umum kepribadiannya. Karena untuk menjadi siswa-siswi di SMKN Jateng di Semarang ini dibutuhkan indikator-indikator karakter tertentu yang nanti jadi bibit-bibit berprestasi,” kata Nurina.
Seorang wali murid, Mutik (45) warga Desa Sumberagung, Bringin, Banjarejo, Blora, berharap putrinya bisa lolos tes dan diterima di SMKN Jateng. Dia sangat berharap anaknya bisa diterima di SMKN Jateng, supaya bisa belajar dengan gratis.
