Kemudian dipanaskan di atas cobek tanah dengan tungku api. Ketan dibuat berbentuk pipih ditaburi gula pasir di atasnya.
Setelah masak, warnanya akan sedikit coklat pada permukaan dan hitam pada bagian dasar. Warna tersebut menyerupai kerak nasi yang gosong, atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan intip. Kemudian, baru disajikan dan dibungkus dengan daun pisang. Rasanya enak dan gurih, tak kalah nikmat dengan jajanan kekinian.
Layli mengatakan, dia menjual intip ketan saat tradisi Dandangan saja, yakni beberapa hari menjelang Ramadan.
“Intip ketan ini hanya ada saat Dandangan. Ya, satu tahun sekali. Selain waktu itu sulit mencarinya,” paparnya, dilansir dari jatengprov.go.id, Rabu 13 Maret 2024.
Menurutnya, intip ketan menjadi ciri khas makanan menjelang Ramadan, karena diyakini memiliki erat kisah dengan Sunan Kudus. Dulu, Sunan Kudus suka menikmati intip ketan dengan kopi.
