Dosen ISI, Suwarno Wisetrotomo yang membuka pameran itu mengatakan, pameran tersebut penting, karena seni diletakkan sebagai medium untuk merawat kekerabatan dan persahabatan. Mereka merupakan Angkatan 1993 yang membentuk kelompok bernama Prasida. “Ternyata kekerabatan mereka terawat hingga sekarang,” katanya.
Pameran tersebur menemukan titik pentingnya, karena kebetulan di Limanjawi Borobudur, merupakan satu kantong seni atau kebudayaan hidup. Lukisan-lukisan yang dipamerkan, tidak ada yang spesifik menyinggung tentang segala macam perbedaan atau konflik di Kawasan Candi Borobudur.
Suwarno justru menilai, siapa pun yang misalnya sedang berbeda pandangan, justru bisa ke sini untuk menikmati seni. “Karena seni merupakan medium paling efektif untuk membangun percakapan,” tutupnya. (*)
