Masyarakat sekitar selama ini juga sudah memanfaatkan eceng gondok untuk berbagai kerajinan. Mulai tas, tempat tisu, meja-kursi, dan lainnya, bahkan beberapa kerajinan sudah masuk pasar ekspor. Namun, pertumbuhan enceng gondok yang cepat tetap meninggalkan permasalahan, sehingga butuh inovasi baru untuk memanfaatkan.
“Adanya paving block dan bio briket dari eceng gondok ini suatu kreativitas yang patut disyukuri. Saya harap, kalau bisa lebih banyak (menggunakan meterial eceng gondok) itu akan lebih bagus,” kata Luthfi.
Menurut Luthfi, keterlibatan Fakultas Teknik UNS dan Bank Jateng dalam memberikan pelatihan pembuatan bio briket dan paving block itu sangat bagus. Hal itu merupakan bagian dari kerja sama yang dijalin oleh Pemprov Jateng dengan UNS.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, Internasionalisasi, dan Informasi UNS, Irwan Trinugroho mengatakan, program tersebut merupakan salah satu turunan dari Memorandum of Understanding (MoU), yang sudah ditandatangani antara Rektor UNS dengan Pemprov Jateng.
“MoU dengan Pemprov Jateng secara general, kemudian dari situ diturunkan menjadi beberapa perjanjian kerja sama, salah satunya adalah ini, sinergi untuk pemberdayaan Rawa Pening. Programnya pemberian pelatihan dari eceng gondok menjadi bio briket dan paving blok,” katanya.
