SEMARANG, CAKRAM.net – Karya-karya ulama besar asal Semarang, KH Sholeh Darat, segera diajukan untuk dicatat dalam program Memory of the World (MoW) UNESCO.
Langkah ini dimulai dengan proses pendaftaran ke Memori Kolektif Bangsa (MKB) yang dikelola Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Usulan ini diinisiasi oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) Kota Semarang bersama Walisongo Center UIN Walisongo dan Komunitas Pecinta Kyai Sholeh Darat (KOPISODA).
Ketiganya sepakat bahwa manuskrip karya KH Sholeh Darat memiliki nilai sejarah dan budaya yang pantas diangkat ke level dunia.
“Pengakuan internasional terhadap warisan KH Sholeh Darat sangat penting, bukan hanya untuk Kota Semarang, tapi juga untuk sejarah intelektual Islam Nusantara,” kata Laily Widyaningtyas, Kabid Pengembangan, Pembinaan, dan Pengawasan Kearsipan Dinas Arpus, Selasa 28 Juli 2025.
Menurut Laily, KH Sholeh Darat adalah tokoh kunci dalam sejarah Islam di Jawa. Ia menulis tafsir Alquran dan kitab-kitab keislaman dalam aksara Arab pegon, yang dapat diakses masyarakat awam pada masanya. Ia juga tercatat sebagai guru dari RA Kartini.
“Kitab-kitab beliau sangat orisinal dan bernilai. Jika nanti lolos di MKB, kami akan ajukan ke UNESCO,” ujarnya.
Proses pencatatan karya ke UNESCO melalui program Memory of the World (MoW) bertujuan melestarikan dokumen penting dari berbagai belahan dunia yang dinilai memiliki dampak luas bagi sejarah umat manusia.
Sejauh ini, Indonesia telah berhasil mendaftarkan Surat-Surat Kartini dan Tarian Jawa Mataraman ke dalam daftar MoW.
Ketua Walisongo Center, Dr Anasom, menjelaskan bahwa karya-karya KH Sholeh Darat yang masih terjaga saat ini menjadi bukti kuat eksistensi literasi Islam Jawa pada abad ke-19.
“Literasi KH Sholeh Darat membuka akses ilmu agama kepada masyarakat yang tidak menguasai bahasa Arab. Ini adalah revolusi sunyi yang penting untuk dicatat dunia,” ujar Anasom, yang juga doktor sejarah dari UIN Sunan Kalijaga.
Gedung Walisongo Center sendiri menyimpan manuskrip asli KH Sholeh Darat, selain koleksi warisan para Wali Songo seperti gamelan dan wayang dakwah Sunan Kalijaga, serta naskah KH Hasyim Asy’ari.
Rencananya, sebagai bagian dari penguatan data, Dinas Arpus akan menyelenggarakan seminar internasional di Semarang pada November 2025.
Narasumber akan didatangkan dari Universitas Leiden, Belanda, yang selama ini dikenal sebagai pusat studi manuskrip Islam Asia Tenggara.
“Kami sudah mendapat restu dari Wali Kota. Seminar ini menjadi bagian penting dalam mendukung pendaftaran ke UNESCO,” tambah Laily.
Kepala Perpustakaan UIN Walisongo, Umar Falahul Alam, menyatakan siap memberikan dukungan penuh untuk keperluan dokumentasi, digitalisasi, dan kajian pustaka sebagai bagian dari persyaratan MoW.
Dengan proses yang tengah berjalan ini, karya-karya KH Sholeh Darat diharapkan tidak hanya diakui sebagai warisan nasional, tetapi juga sebagai bagian dari warisan intelektual dunia.(*)
