Warga sekitar TPS Muktiharjo Kidul sendiri telah lama mengeluhkan bau menyengat dan tumpukan sampah yang meluber hingga menimbulkan gangguan kenyamanan. Pemerintah telah merespon dengan inspeksi langsung dan evaluasi menyeluruh atas sistem pengangkutan dan pengelolaan TPS tersebut.
Di sisi lain, masyarakat melalui BKM Mukti Jaya dan KSM setempat sebenarnya telah menjalankan pengelolaan TPST 3R sejak 2019. Namun upaya tersebut membutuhkan dukungan lebih kuat dari Pemkot dan juga partisipasi aktif warga.
Ke depan, langkah-langkah penanganan permasalahan lingkungan juga terus didorong, salah satunya melalui program Semarang Bersih yang mencakup penguatan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, pengelolaan bank sampah, hingga kampanye zero waste berbasis komunitas.
Agustina berharap, kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan warga akan menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan tertata, sekaligus menjadi bagian dari strategi terpadu dalam membangun kota yang lebih berkelanjutan.
Dalam kunjungannya ke Muktiharjo Kidul, Wali Kota juga menyoroti permasalahan stunting yang masih menjadi tantangan di wilayah tersebut. Saat ini tercatat 12 anak dalam kondisi stunting, setelah sebelumnya ada 13 anak namun satu keluar dari data karena faktor usia.
